https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEgmrNmoHTkp2lWYF2b1Bz3Rlb8iH90NqTRNT7FHxYo360D9Q6LrYm77YkNxvZ7YdeCbx8pLE72fOULS_4HMnE2LMFZ7M-DI-0NxMO-3YSkUscHkpajQM6ESt_syticA8mxpcOhliWANMiM/s1600/Untitled.png Rahmatika Dewi ^^: SERIBU RUPIAH

Jumat, 30 Maret 2012

SERIBU RUPIAH


                Terdengar suara langkah kaki berlari dari luar kelas, “Eh semuanya, Bu Lili gak masuk hari ini. Katanya lagi ke Jogja.“ ucap Messy yang sedikit terengah-engah. Jujur kami senang mendengarnya. Guru ‘killer’ itu tidak masuk. Kala itu aku masih duduk di bangku sekolah dasar, tepatnya kelas 3 SD. “Trus kita ngapain ?“ tanya seseorang di kelasku, “Katanya disuruh ngerjain soal, nih soalnya. Tapi harus ditulis di papan tulis.“ jawab messy. Sanny, teman sebangkuku yang sedari tadi sedang asyik menggambar tiba-tiba ikut bicara, “Lah, kan spidolnya ilang, mes.“ Messy yang baru ingin duduk di kursinya itu pun segera bangkit lagi, “Oiya, ilang ya ? kalo gitu minjem ke Bu Turi aja. Yuk, Nur.“ ucap Messy sambil menggandeng tangan Nur lalu pergi.

          Beberapa saat kemudian mereka pun datang. Messy dengan rasa lelahnya tetap tidak bisa memberikan tugasnya kepada yang lain. Ya, dia memang anak kesayangannya Bu Lili. Melihat Messy menulis di papan tulis, kami pun segera beranjak dari kegiatan kami masing-masing. Belum lama Messy menulis tiba-tiba tinta spidol itu habis. Messy pun berhenti sejenak. “Kok berenti sih, mes ?“ tanya Nur, “Tintanya abis.“ jawab Messy singkat. “Coba aja minta ama Bu Turi !“ celetuk tri, “Ah, capek gua. Dari tadi bolak balik mulu. Elu aja gih, Tri !“ jawab Messy dengan nada ngotot. “yah, masa’ gitu aja capek ?! yang biasa lapor guru kan elu, mes. Udah sono lu aja, gua lagi males ketemu ama bu Turi.“ rayu Tri dengan maksud agar ia tak bertemu Bu Turi, paling tidak setelah ia tak sengaja menumpahkan saus ke kemejanya waktu itu. Demi menjaga imagenya sebagai wakil ketua kelas, Messy pun bergegas pergi menemui Bu Turi tanpa ditemani Nur lagi.

          Kali ini Messy kembali agak lama, bahkan hingga anak-anak selesai menulis. Tentu saja, mengisi tinta spidol memang agak merepotkan. Apalagi bila tintanya bocor. Messy pun kembali lalu berkata, “Eh semuanya, kata Bu Turi tinta spidolnya kan abis, jadinya kita disuruh ngumpulin duit buat beli tintanya “. Sekejap kami terdiam sambil keheranan. “Lah, kenapa jadi kita yang disuruh ngumpulin duitnya ? emangnya Bu Turi gak punya duit apa ?“ tanya Tri, “Gak tau tuh, pokoknya kita harus ngumpulin duit buat beli tinta sekarang. Kalo nggak tugasnya gak bakalan selesai.” jawab Messy memaksa. Dengan terpaksa anak-anak pun memberikan uangnya, kecuali aku. Ketika Messy datang ke mejaku, aku pun menolak untuk memberikan uangku, “Eh Riza, cepetan bayar !” , “Eh, yang bener aja dong, duit gua tuh cuma seribu dan gua belom jajan. Kalo lu ambil duitnya, ntar gua jajan apaan ? gua tuh laper daritadi belom makan, lu tega sama gua ?” ucapku dengan nada menolak. “Kalo lu gak bayar, ntar gua bilangin Bu Lili, lho. Sini buruan, pelit banget sih, lu !” Messy tetap memaksaku dan akhirnya seribu rupiahku pun diambil paksa olehnya, demi tinta spidol itu. Aku pun merasa geram. Ku pikir kenapa aku harus memberikan uangku, sementara aku belum menggunakannya sedikitpun. Aku lapar, aku belum makan. Memangnya siapa yang akan memberikan uang jajannya padaku dengan sukarela, bahkan teman sebangkuku sekalipun. Ketika bel pulang sekolah berbunyi, aku pun bergegas pergi meninggalkan kelasku. Aku berlari sambil menangis, mencaci maki Messy dalam hati.

          Sesampainya di rumah, segera ku ceritakan sebab menangisku kepada orang tuaku yang kebetulan sedang asik bercengkrama di dalam rumah. “Udah, gak usah nangis. Nanti biar bapak yang ke sekolah buat jelasin semuanya, ya pak, ya !” ucap ibuku yang berusaha menghentikan tangisku, lalu ayahku mengangguk. Keesokan harinya aku berangkat ke sekolah dengan diantar oleh ayahku. Meski biasanya aku berangkat sendiri, tapi kali ini ayahku ingin menjelaskan apa yang terjadi kemarin kepada guru sekolahku. Entah kenapa hari itu aku merasa tidak nyaman berada di kelas. Selain harus bertemu dengan Messy lagi, aku juga sudah mendapat julukan lain di kelasku dan itu hampir diketahui oleh seluruh anak-anak di kelas. “Eh, awas awas, ada orang pelit dateng.” sindir Messy padaku ketika aku baru masuk ke kelas setelah dari kantin. “Sabar ya, tik.” ucap Sanny menghiburku. Tapi aku tetap tak menanggapi sindiran itu, hingga bel pulang sekolah berbunyi.

          “Za, jangan lupa ya besok kita ada praktek KTK.” kata Sanny mencoba mengingatkanku, “Iya, makasih ya udah ngingetin.” ucapku berterimakasih. Hari itu aku mencoba untuk tak memikirkan apa yang telah terjadi di sekolah, tapi beranjak untuk memeriksa perlengkapan untuk praktek KTK esok hari. Ketika pagi dimulai, aku berharap semoga hari ini aku bisa tersenyum lagi, dan semoga masalahku tak lagi menjadi topik pembicaraan di kelas. Amin.

          Bel masuk sekolah pun berbunyi. Terdengar suara langkah kaki menuju kelasku. “Apa Bu Lili bakal masuk hari ini ?” tanyaku dalam hati. Dan ternyata itu benar Bu Lili. Seperti biasa, dengan wajah ketusnya ia pun mengawali pembelajaran. “Hari ini kita praktek ya, semuanya pada bawa bahan-bahannya kan ?! siapa yang gak bawa ?” sejenak ruangan tampak sunyi. Untungnya tidak ada satupun dari kami yang tidak membawa bahan-bahan praktik KTK, kalau ada mungkin anak itu akan habis dimarahi Bu Lili. Tak lama kemudian, praktik pun dimulai. Pertama tama Bu Lili memberikan contoh awal cara membuat boneka dari botol minuman yakult. Setelah selesai dan semua anak-anak paham, Bu Lili pun mempersilahkan kami untuk mencoba membuat boneka itu. Ditengah proses pembuatan tiba-tiba aku kehabisan lem. Segera aku mencari pinjaman. Karena tak melihat lem dimeja teman-temanku, aku pun memberanikan diri meminjam lem kepada Bu Lili. “Bu, saya mau pinjam lemnya ya.” , “Ngapain kamu minjem sama saya ? minjem duit seribu aja pelit banget. Udah sana, pinjem sama yang lain !” balas Bu Lili dengan nada kesal.

          Aku pun terdiam lalu kembali ke tempat dudukku. “Udah, Tik tenang. Nih, pake punya gua aja.” ucap Sanny sambil sedikit merangkulku. Dalam hati aku menjerit keras. Mengapa hal ini bisa terjadi padaku ? apakah aku salah mempertahankan seribu rupiahku itu demi diriku sendiri ? toh meskipun uang itu telah aku berikan, aku tetap saja dimaki-maki, bahkan oleh guruku sendiri. Sungguh, ini kali pertama aku dimarahi oleh guruku sendiri, hanya gara-gara uang seribu rupiah itu.




                                                            SELESAI

Tidak ada komentar:

Posting Komentar