Malam semakin larut. Bu Laila berniat menutup warungnya meski suaminya, Pak Zain belum juga pulang. Nisa, anak pertamanya pun sudah tertidur lelap. Meski sudah menutup warungnya, Bu Laila masih tetap terjaga sambil berdo’a untuk keselamatan suaminya. Pak Zain, memang sudah menjadi supir taksi sejak tiga tahun lalu dan tiga tahun lalu juga ia dan isterinya pertama kali menginjakkan kaki di ibukota. Ia sudah mengalami berbagai macam kejadian selama menjadi supir taksi. Bahkan pernah suatu ketika ia dihampiri oleh para preman untuk dimintai uang, namun kala itu Pak Zain belum mendapat uang sepeserpun. Akhirnya ia pun terpaksa menerima pukulan dari para preman itu.
Ketika mendengar suara mobil berhenti disamping kontrakannya, Bu Laila pun segera membuka pintu. “Assalamu’alaikum, bu.” , “Wa’alaikum salam, pak.” jawab Bu Laila dengan senyum. “Bagaimana kabar anak kita ?” tanya Pak Zain sambil mencium perut isterinya, “Alhamdulillah baik, pak.” lalu duduk diatas ranjang tidur. “Bapak sudah makan ?” lanjut Bu Laila, “Sudah.” jawab Pak Zain sambil bergegas mandi. Usai mandi, lampu dalam kontrakan itu pun akhirnya dimatikan. Satu jam berlalu, Pak Zain belum juga terlelap. Ia masih mengingat tentang sekoper uang tak bertuan yang tertinggal di dalam taksinya tadi siang, yang sekarang sudah dipindahkan ke bagasi. Ia tak tahu harus melakukan apa. Jika ia melaporkan ke polisi, mungkin saja ia akan jadi tersangka karena sebuah tuduhan, tapi jika ia bercerita kepada isterinya, mungkin ia akan lebih tidak tenang. Yang jelas malam ini Pak Zain tidak bisa tidur.
Keesokan harinya, Pak Zain yang biasanya bangun setelah isterinya membangunkannya, hari itu terbangun karena tak kunjung terlelap. Semalaman ia hanya bergonta ganti posisi tidurnya. Dilihatnya jam dinding sudah menunjukkan pukul tiga pagi. Karena masih tidak bisa tidur dan tidak tahu juga apa yang harus dilakukan, Pak Zain melihat mobil taksinya dari jendela samping kontrakannya. Ia terkejut setelah melihat bagasi taksinya terbuka. Segera ia bergegas keluar menghampiri taksinya. Dan ternyata koper hitam berisi uang yang tak bertuan itu telah hilang. Pak Zain pun cepat-cepat menutup bagasi taksinya lalu kembali ke dalam rumah. Baru saja hendak mengunci pintu tiba-tiba seseorang menyentuh bahunya, “Habis darimana, pak?” , “Eh ibu, ehh bapak nggak abis dari mana-mana, kok. Tadi bapak cuma mau keluar aja sebentar.” jawab Pak Zain dengan wajah yang sedikit pucat. Bu Laila memang masih curiga dengan sikap suaminya itu, namun itu masih pagi. Tidak baik bagi seorang isteri, apalagi yang sedang mengandung itu menyimpan curiga terhadap suaminya sendiri, “Toh tak terjadi apa-apa.” kata Bu Laila dalam hati. Melihat waktu yang sebentar lagi subuh, Bu Laila dan Pak Zain pun segera mengambil air wudhu, bersiap untuk shalat subuh.
Usai shalat subuh, tiba-tiba handphone Pak Zain berbunyi “Halo, Assalamu’alaikum ?” ucap suara yang berasal dari handphone itu, “Wa’alaikum salam, ada apa pak ?” , “Maap saya ganggu pagi-pagi. Begini Zain, kebetulan hari ini ada orang baru. Nah, berhubung yang lain lagi pada rame, mending taksi kamu aja yang dipake ya. Lagian saya denger-denger kamu lagi sepi, gak apa-apa kan, zain ?” , “Hmm, gimana ya pak ? ya udah deh, pak. Silahkan. Ehh, tapi kira-kira sampe berapa lama ya, pak ?” tanya Pak Zain kepada orang itu, “Ya, sekitar satu atau dua minggu, lah. Kalo gitu nanti saya ke rumah kamu ya.” , “Iya, pak.” jawab Pak Zain dengan raut wajah kecewa, “Ya udah kalo gitu, Assalamu’alaikum.” ucap orang itu mengakhiri pembicaraan, “Wa’alaikum salam.” jawab Pak Zain sambil menekan tombol merah di handphonenya. Melihat raut wajah suaminya itu, Bu Laila sudah tahu dan ia memilih untuk tidak bertanya. Ia membangunkan Nisa yang masih tertidur lalu pergi ke dapur untuk menyiapkan sarapan pagi itu. Usai sarapan Pak zain berniat untuk mengantarkan Nisa ke sekolah. Tak lama stelah suami dan anaknya pergi, Pak Rasyid pemilik taksi suaminya itu pun datang dan mengambil kunci lalu pergi dengan taksinya.
Hari itu Pak Zain pun menganggur. Taksi yang biasanya menjadi teman kerjanya sedang bersama orang lain. “Bu, kamu udah hamil berapa bulan ? 9 bulan ya ?” tanya Pak Zain tiba-tiba, “Iya, pak. Emang kenapa ?” jawab Bu Laila lalu bertanya. Pak Zain hanya menjawabnya dengan senyum tipis. “Ternyata sebentar lagi, ya.” ucap Pak Zain dalam hati. Ia sadar betul bahwa tujuannya mencari uang saat ini adalah untuk biaya persalinan istrinya. Dan ketika taksi tidak bisa diandalkan, ia pun lekas berpikir, “Apa yang harus kulakukan ?” tanyanya dalam hati. Tiba-tiba datang Bu Rini, tetangga Pak Zain. “Bu, gulanya setengah kilo ya.” , “Iya, bu. Sebentar ya.” jawab Bu Laila lalu mengambil gula. “Eh, Pak Zain nggak narik hari ini ?” tanya Bu Rini, “Lagi nggak, bu.” , “Oh, kalo gitu kebetulan, dong. Radio saya lagi rusak. Saya denger pak zain bisa benerin radio rusak, bisa gak pak ?” , “Oh radio, iya bisa bu.” , “Kalo gitu ikut saya ke rumah sekarang, ya !”. Pak Zain pun tersenyum lalu berkata, “Iya bu.”. Setelah membayar belanjaannya, Bu Rini pun mengajak Pak Zain untuk ikut dengannya.
Selesai membetulkan televisi di rumah Bu Rini, Pak Zain pun kembali ke rumahnya. Melihat suaminya yang pulang dengan senyum sumringah itu, Bu Laila pun lekas bertanya, “Seneng banget, pak ? emang dapet duit berapa dari Bu Rini ?” suaminya pun menjawab, “Bu, mulai sekarang bapak mau buka usaha service barang elektronik. Ya, itung-itung bisa jadi tambahan kalo bapak gak ada uang, apalagi kaya’ sekarang ini. Taksi emang gak bisa diandelin selamanya, bu.”. Bu Laila pun tersenyum, “Asal itu halal aja, pak.”.
Lima hari kemudian, Bu Laila pun melahirkan anak keduanya. Harapan Pak Zain akan anak laki-laki pun terwujud. Ia pun bersyukur juga karena bisa membiayai persalinan isterinya hingga lunas. Anak laki-laki itu diberi nama Ridho. Satu bulan berlalu, Ridho tumbuh menjadi balita yang menggemaskan. Namun ketika itu, usaha service alat elektronik Pak Zain kian sepi. Tiba-tiba datang Pak Warno menghentikan lamunan Pak Zain. “Assalamu’alaikum, Pak Zain.” salam Pak Warno memulai perbincangan, “Wa’alaikum salam, eh pak warno. Ada apa pak ?” , “Nggak, pengin main aja. Hmm, gini pak, saya ini kan kerja di perusahaan asuransi, kebetulan saya sedang mencari agen asuransi. Kira-kira pak zain mau gak jadi agen asuransi ?” jelas Pak Warno bermaksud menawarkan pekerjaan, “Agen asuransi ? tapi saya gak punya bakat kaya’ gitu, pak. Saya ini dari dulu cuma jadi supir taksi aja.” jawab Pak Zain bermaksud menolak, “Kalo jadi agen asuransi itu gak perlu punya bakat, pak. Cukup niat aja, insya Allah bisa.” bujuk Pak Warno.
Pak Zain pun berpikir. Kini ia mempunyai dua orang anak, tentu biaya hidup akan bertambah. Sedangkan pekerjaannya sebagai supir taksi dan membetulkan alat elektronik tidaklah cukup. “Oke pak, saya coba.” , “Bagus kalo gitu. Besok bapak ikut saya ke kantor. Jangan lupa pake baju yang rapi ya, pak.” , “Baik, pak.”. Pak Warno pun lalu pergi. Dengan penuh semangat, Pak Zain mencari kemeja dan sepatunya untuk dipakai esok hari. Namun ternyata kemeja Pak Zain sudah cukup usang, sedangkan sepatunya sudah terlalu jelek untuk dipakai ke kantor Pak Warno. Ia pun bergegas pergi keluar, mendatangi rumah Bu Rini. Waktu itu suaminya bilang ada banyak kemeja dan beberapa sepatu yang sudah tidak digunakan lagi. Mungkin ia masih menyimpannya di gudang. Dan benar saja, Pak Zain pun mendapatkan apa yang ia cari, bahkan ia juga mendapat sebuah dasi. Pak Zain tak sabar untuk pergi ke kantor bersama Pak Warno besok.
Dan sejak saat itu, Pak Zain beralih profesi. Dari supir taksi menjadi agen asuransi. Bahkan karena prestasi yang ia dapatkan di kantornya, ia pun mendapatkan penghargaan berupa pengangkatan jabatan sebagai pegawai tetap. Kini Pak Zain menjalani hidup yang penuh dengan kebahagiaan bersama isteri dan dua orang anaknya di rumah baru sebagai Kepala Cabang di di kantornya.
SELESAI
Tidak ada komentar:
Posting Komentar