https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEgmrNmoHTkp2lWYF2b1Bz3Rlb8iH90NqTRNT7FHxYo360D9Q6LrYm77YkNxvZ7YdeCbx8pLE72fOULS_4HMnE2LMFZ7M-DI-0NxMO-3YSkUscHkpajQM6ESt_syticA8mxpcOhliWANMiM/s1600/Untitled.png Rahmatika Dewi ^^: Maret 2012

Jumat, 30 Maret 2012

DARI TAKSI KE ASURANSI

Malam semakin larut. Bu Laila berniat menutup warungnya meski suaminya, Pak Zain belum juga pulang. Nisa, anak pertamanya pun sudah tertidur lelap. Meski sudah menutup warungnya, Bu Laila masih tetap terjaga sambil berdo’a untuk keselamatan suaminya. Pak Zain, memang sudah menjadi supir taksi sejak tiga tahun lalu dan tiga tahun lalu juga ia dan isterinya pertama kali menginjakkan kaki di ibukota. Ia sudah mengalami berbagai macam kejadian selama menjadi supir taksi. Bahkan pernah suatu ketika ia dihampiri oleh para preman untuk dimintai uang, namun kala itu Pak Zain belum mendapat uang sepeserpun. Akhirnya ia pun terpaksa menerima pukulan dari para preman itu.

          Ketika mendengar suara mobil berhenti disamping kontrakannya, Bu Laila pun segera membuka pintu. “Assalamu’alaikum, bu.” , “Wa’alaikum salam, pak.” jawab Bu Laila dengan senyum. “Bagaimana kabar anak kita ?” tanya Pak Zain sambil mencium perut isterinya, “Alhamdulillah baik, pak.” lalu duduk diatas ranjang tidur. “Bapak sudah makan ?” lanjut Bu Laila, “Sudah.” jawab Pak Zain sambil bergegas mandi. Usai mandi, lampu dalam kontrakan itu pun akhirnya dimatikan. Satu jam berlalu, Pak Zain belum juga terlelap. Ia masih mengingat tentang sekoper uang tak bertuan yang tertinggal di dalam taksinya tadi siang, yang sekarang sudah dipindahkan ke bagasi. Ia tak tahu harus melakukan apa. Jika ia melaporkan ke polisi, mungkin saja ia akan jadi tersangka karena sebuah tuduhan, tapi jika ia bercerita kepada isterinya, mungkin ia akan lebih tidak tenang. Yang jelas malam ini Pak Zain tidak bisa tidur.

          Keesokan harinya, Pak Zain yang biasanya bangun setelah isterinya membangunkannya, hari itu terbangun karena tak kunjung terlelap. Semalaman ia hanya bergonta ganti posisi tidurnya. Dilihatnya jam dinding sudah menunjukkan pukul tiga pagi. Karena masih tidak bisa tidur dan tidak tahu juga apa yang harus dilakukan, Pak Zain melihat mobil taksinya dari jendela samping kontrakannya. Ia terkejut setelah melihat bagasi taksinya terbuka. Segera ia bergegas keluar menghampiri taksinya. Dan ternyata koper hitam berisi uang yang tak bertuan itu telah hilang. Pak Zain pun cepat-cepat menutup bagasi taksinya lalu kembali ke dalam rumah. Baru saja hendak mengunci pintu tiba-tiba seseorang menyentuh bahunya, “Habis darimana, pak?” , “Eh ibu, ehh bapak nggak abis dari mana-mana, kok. Tadi bapak cuma mau keluar aja sebentar.” jawab Pak Zain dengan wajah yang sedikit pucat. Bu Laila memang masih curiga dengan sikap suaminya itu, namun itu masih pagi. Tidak baik bagi seorang isteri, apalagi yang sedang mengandung itu menyimpan curiga terhadap suaminya sendiri, “Toh tak terjadi apa-apa.” kata Bu Laila dalam hati. Melihat waktu yang sebentar lagi subuh, Bu Laila dan Pak Zain pun segera mengambil air wudhu, bersiap untuk shalat subuh.

          Usai shalat subuh, tiba-tiba handphone Pak Zain berbunyi “Halo, Assalamu’alaikum ?” ucap suara yang berasal dari handphone itu, “Wa’alaikum salam, ada apa pak ?” , “Maap saya ganggu pagi-pagi. Begini Zain, kebetulan hari ini ada orang baru. Nah, berhubung yang lain lagi pada rame, mending taksi kamu aja yang dipake ya. Lagian saya denger-denger kamu lagi sepi, gak apa-apa kan, zain ?” , “Hmm, gimana ya pak ? ya udah deh, pak. Silahkan. Ehh, tapi kira-kira sampe berapa lama ya, pak ?” tanya Pak Zain kepada orang itu, “Ya, sekitar satu atau dua minggu, lah. Kalo gitu nanti saya ke rumah kamu ya.” , “Iya, pak.” jawab Pak Zain dengan raut wajah kecewa, “Ya udah kalo gitu, Assalamu’alaikum.” ucap orang itu mengakhiri pembicaraan, “Wa’alaikum salam.” jawab Pak Zain sambil menekan tombol merah di handphonenya. Melihat raut wajah suaminya itu, Bu Laila sudah tahu dan ia memilih untuk tidak bertanya. Ia membangunkan Nisa yang masih tertidur lalu pergi ke dapur untuk menyiapkan sarapan pagi itu. Usai sarapan Pak zain berniat untuk mengantarkan Nisa ke sekolah. Tak lama stelah suami dan anaknya pergi, Pak Rasyid pemilik taksi suaminya itu pun datang dan mengambil kunci lalu pergi dengan taksinya.

          Hari itu Pak Zain pun menganggur. Taksi yang biasanya menjadi teman kerjanya sedang bersama orang lain. “Bu, kamu udah hamil berapa bulan ? 9 bulan ya ?” tanya Pak Zain tiba-tiba, “Iya,  pak. Emang kenapa ?” jawab Bu Laila lalu bertanya. Pak Zain hanya menjawabnya dengan senyum tipis. “Ternyata sebentar lagi, ya.” ucap Pak Zain dalam hati. Ia sadar betul bahwa tujuannya mencari uang saat ini adalah untuk biaya persalinan istrinya. Dan ketika taksi tidak bisa diandalkan, ia pun lekas berpikir, “Apa yang harus kulakukan ?” tanyanya dalam hati. Tiba-tiba datang Bu Rini, tetangga Pak Zain. “Bu, gulanya setengah kilo ya.” , “Iya, bu. Sebentar ya.” jawab Bu Laila lalu mengambil gula.  “Eh, Pak Zain nggak narik hari ini ?” tanya Bu Rini, “Lagi nggak, bu.” , “Oh, kalo gitu kebetulan, dong. Radio saya lagi rusak. Saya denger pak zain bisa benerin radio rusak, bisa gak pak ?” , “Oh radio, iya bisa bu.” , “Kalo gitu ikut saya ke rumah sekarang, ya !”. Pak Zain pun tersenyum lalu berkata, “Iya bu.”. Setelah membayar belanjaannya, Bu Rini pun mengajak Pak Zain untuk ikut dengannya.

          Selesai membetulkan televisi di rumah Bu Rini, Pak Zain pun kembali ke rumahnya. Melihat suaminya yang pulang dengan senyum sumringah itu, Bu Laila pun lekas bertanya, “Seneng banget, pak ? emang dapet duit berapa dari Bu Rini ?” suaminya pun menjawab, “Bu, mulai sekarang bapak mau buka usaha service barang elektronik. Ya, itung-itung bisa jadi tambahan kalo bapak gak ada uang, apalagi kaya’ sekarang ini. Taksi emang gak bisa diandelin selamanya, bu.”. Bu Laila pun tersenyum, “Asal itu halal aja, pak.”.

          Lima hari kemudian, Bu Laila pun melahirkan anak keduanya. Harapan Pak Zain akan anak laki-laki pun terwujud. Ia pun bersyukur juga karena bisa membiayai persalinan isterinya hingga lunas. Anak laki-laki itu diberi nama Ridho. Satu bulan berlalu, Ridho tumbuh menjadi balita yang menggemaskan. Namun ketika itu, usaha service alat elektronik Pak Zain kian sepi. Tiba-tiba datang Pak Warno menghentikan lamunan Pak Zain. “Assalamu’alaikum, Pak Zain.” salam Pak Warno memulai perbincangan, “Wa’alaikum salam, eh pak warno. Ada apa pak ?” , “Nggak, pengin main aja. Hmm, gini pak, saya ini kan kerja di perusahaan asuransi, kebetulan saya sedang mencari agen asuransi. Kira-kira pak zain mau gak jadi agen asuransi ?” jelas Pak Warno bermaksud menawarkan pekerjaan, “Agen asuransi ? tapi saya gak punya bakat kaya’ gitu, pak. Saya ini dari dulu cuma jadi supir taksi aja.” jawab Pak Zain bermaksud menolak, “Kalo jadi agen asuransi itu gak perlu punya bakat, pak. Cukup niat aja, insya Allah bisa.” bujuk Pak Warno.

Pak Zain pun berpikir. Kini ia mempunyai dua orang anak, tentu biaya hidup akan bertambah. Sedangkan pekerjaannya sebagai supir taksi dan membetulkan alat elektronik tidaklah cukup. “Oke pak, saya coba.” , “Bagus kalo gitu. Besok bapak ikut saya ke kantor. Jangan lupa pake baju yang rapi ya, pak.” , “Baik, pak.”. Pak Warno pun lalu pergi. Dengan penuh semangat, Pak Zain mencari kemeja dan sepatunya untuk dipakai esok hari. Namun ternyata kemeja Pak Zain sudah cukup usang, sedangkan sepatunya sudah terlalu jelek untuk dipakai ke kantor Pak Warno. Ia pun bergegas pergi keluar, mendatangi rumah Bu Rini. Waktu itu suaminya bilang ada banyak kemeja dan beberapa sepatu yang sudah tidak digunakan lagi. Mungkin ia masih menyimpannya di gudang. Dan benar saja, Pak Zain pun mendapatkan apa yang ia cari, bahkan ia juga mendapat sebuah dasi. Pak Zain tak sabar untuk pergi ke kantor bersama Pak Warno besok.

Dan sejak saat itu, Pak Zain beralih profesi. Dari supir taksi menjadi agen asuransi. Bahkan karena prestasi yang ia dapatkan di kantornya, ia pun mendapatkan penghargaan berupa pengangkatan jabatan sebagai pegawai tetap. Kini Pak Zain menjalani hidup yang penuh dengan kebahagiaan bersama isteri dan dua orang anaknya di rumah baru sebagai Kepala Cabang di di kantornya.




SELESAI

SERIBU RUPIAH


                Terdengar suara langkah kaki berlari dari luar kelas, “Eh semuanya, Bu Lili gak masuk hari ini. Katanya lagi ke Jogja.“ ucap Messy yang sedikit terengah-engah. Jujur kami senang mendengarnya. Guru ‘killer’ itu tidak masuk. Kala itu aku masih duduk di bangku sekolah dasar, tepatnya kelas 3 SD. “Trus kita ngapain ?“ tanya seseorang di kelasku, “Katanya disuruh ngerjain soal, nih soalnya. Tapi harus ditulis di papan tulis.“ jawab messy. Sanny, teman sebangkuku yang sedari tadi sedang asyik menggambar tiba-tiba ikut bicara, “Lah, kan spidolnya ilang, mes.“ Messy yang baru ingin duduk di kursinya itu pun segera bangkit lagi, “Oiya, ilang ya ? kalo gitu minjem ke Bu Turi aja. Yuk, Nur.“ ucap Messy sambil menggandeng tangan Nur lalu pergi.

          Beberapa saat kemudian mereka pun datang. Messy dengan rasa lelahnya tetap tidak bisa memberikan tugasnya kepada yang lain. Ya, dia memang anak kesayangannya Bu Lili. Melihat Messy menulis di papan tulis, kami pun segera beranjak dari kegiatan kami masing-masing. Belum lama Messy menulis tiba-tiba tinta spidol itu habis. Messy pun berhenti sejenak. “Kok berenti sih, mes ?“ tanya Nur, “Tintanya abis.“ jawab Messy singkat. “Coba aja minta ama Bu Turi !“ celetuk tri, “Ah, capek gua. Dari tadi bolak balik mulu. Elu aja gih, Tri !“ jawab Messy dengan nada ngotot. “yah, masa’ gitu aja capek ?! yang biasa lapor guru kan elu, mes. Udah sono lu aja, gua lagi males ketemu ama bu Turi.“ rayu Tri dengan maksud agar ia tak bertemu Bu Turi, paling tidak setelah ia tak sengaja menumpahkan saus ke kemejanya waktu itu. Demi menjaga imagenya sebagai wakil ketua kelas, Messy pun bergegas pergi menemui Bu Turi tanpa ditemani Nur lagi.

          Kali ini Messy kembali agak lama, bahkan hingga anak-anak selesai menulis. Tentu saja, mengisi tinta spidol memang agak merepotkan. Apalagi bila tintanya bocor. Messy pun kembali lalu berkata, “Eh semuanya, kata Bu Turi tinta spidolnya kan abis, jadinya kita disuruh ngumpulin duit buat beli tintanya “. Sekejap kami terdiam sambil keheranan. “Lah, kenapa jadi kita yang disuruh ngumpulin duitnya ? emangnya Bu Turi gak punya duit apa ?“ tanya Tri, “Gak tau tuh, pokoknya kita harus ngumpulin duit buat beli tinta sekarang. Kalo nggak tugasnya gak bakalan selesai.” jawab Messy memaksa. Dengan terpaksa anak-anak pun memberikan uangnya, kecuali aku. Ketika Messy datang ke mejaku, aku pun menolak untuk memberikan uangku, “Eh Riza, cepetan bayar !” , “Eh, yang bener aja dong, duit gua tuh cuma seribu dan gua belom jajan. Kalo lu ambil duitnya, ntar gua jajan apaan ? gua tuh laper daritadi belom makan, lu tega sama gua ?” ucapku dengan nada menolak. “Kalo lu gak bayar, ntar gua bilangin Bu Lili, lho. Sini buruan, pelit banget sih, lu !” Messy tetap memaksaku dan akhirnya seribu rupiahku pun diambil paksa olehnya, demi tinta spidol itu. Aku pun merasa geram. Ku pikir kenapa aku harus memberikan uangku, sementara aku belum menggunakannya sedikitpun. Aku lapar, aku belum makan. Memangnya siapa yang akan memberikan uang jajannya padaku dengan sukarela, bahkan teman sebangkuku sekalipun. Ketika bel pulang sekolah berbunyi, aku pun bergegas pergi meninggalkan kelasku. Aku berlari sambil menangis, mencaci maki Messy dalam hati.

          Sesampainya di rumah, segera ku ceritakan sebab menangisku kepada orang tuaku yang kebetulan sedang asik bercengkrama di dalam rumah. “Udah, gak usah nangis. Nanti biar bapak yang ke sekolah buat jelasin semuanya, ya pak, ya !” ucap ibuku yang berusaha menghentikan tangisku, lalu ayahku mengangguk. Keesokan harinya aku berangkat ke sekolah dengan diantar oleh ayahku. Meski biasanya aku berangkat sendiri, tapi kali ini ayahku ingin menjelaskan apa yang terjadi kemarin kepada guru sekolahku. Entah kenapa hari itu aku merasa tidak nyaman berada di kelas. Selain harus bertemu dengan Messy lagi, aku juga sudah mendapat julukan lain di kelasku dan itu hampir diketahui oleh seluruh anak-anak di kelas. “Eh, awas awas, ada orang pelit dateng.” sindir Messy padaku ketika aku baru masuk ke kelas setelah dari kantin. “Sabar ya, tik.” ucap Sanny menghiburku. Tapi aku tetap tak menanggapi sindiran itu, hingga bel pulang sekolah berbunyi.

          “Za, jangan lupa ya besok kita ada praktek KTK.” kata Sanny mencoba mengingatkanku, “Iya, makasih ya udah ngingetin.” ucapku berterimakasih. Hari itu aku mencoba untuk tak memikirkan apa yang telah terjadi di sekolah, tapi beranjak untuk memeriksa perlengkapan untuk praktek KTK esok hari. Ketika pagi dimulai, aku berharap semoga hari ini aku bisa tersenyum lagi, dan semoga masalahku tak lagi menjadi topik pembicaraan di kelas. Amin.

          Bel masuk sekolah pun berbunyi. Terdengar suara langkah kaki menuju kelasku. “Apa Bu Lili bakal masuk hari ini ?” tanyaku dalam hati. Dan ternyata itu benar Bu Lili. Seperti biasa, dengan wajah ketusnya ia pun mengawali pembelajaran. “Hari ini kita praktek ya, semuanya pada bawa bahan-bahannya kan ?! siapa yang gak bawa ?” sejenak ruangan tampak sunyi. Untungnya tidak ada satupun dari kami yang tidak membawa bahan-bahan praktik KTK, kalau ada mungkin anak itu akan habis dimarahi Bu Lili. Tak lama kemudian, praktik pun dimulai. Pertama tama Bu Lili memberikan contoh awal cara membuat boneka dari botol minuman yakult. Setelah selesai dan semua anak-anak paham, Bu Lili pun mempersilahkan kami untuk mencoba membuat boneka itu. Ditengah proses pembuatan tiba-tiba aku kehabisan lem. Segera aku mencari pinjaman. Karena tak melihat lem dimeja teman-temanku, aku pun memberanikan diri meminjam lem kepada Bu Lili. “Bu, saya mau pinjam lemnya ya.” , “Ngapain kamu minjem sama saya ? minjem duit seribu aja pelit banget. Udah sana, pinjem sama yang lain !” balas Bu Lili dengan nada kesal.

          Aku pun terdiam lalu kembali ke tempat dudukku. “Udah, Tik tenang. Nih, pake punya gua aja.” ucap Sanny sambil sedikit merangkulku. Dalam hati aku menjerit keras. Mengapa hal ini bisa terjadi padaku ? apakah aku salah mempertahankan seribu rupiahku itu demi diriku sendiri ? toh meskipun uang itu telah aku berikan, aku tetap saja dimaki-maki, bahkan oleh guruku sendiri. Sungguh, ini kali pertama aku dimarahi oleh guruku sendiri, hanya gara-gara uang seribu rupiah itu.




                                                            SELESAI