https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEgmrNmoHTkp2lWYF2b1Bz3Rlb8iH90NqTRNT7FHxYo360D9Q6LrYm77YkNxvZ7YdeCbx8pLE72fOULS_4HMnE2LMFZ7M-DI-0NxMO-3YSkUscHkpajQM6ESt_syticA8mxpcOhliWANMiM/s1600/Untitled.png Rahmatika Dewi ^^: Januari 2012

Kamis, 05 Januari 2012

PIZZA PERTEMANAN

Malam itu, aku baru sampai di kamar kosku. Karena aku mengambil mata kuliah jam malam. Ku lihat di handphoneku menunjukkan pukul 21.00. Seperti biasa sepulang kuliah, kunyalakan laptopku untuk mengerjakan tugas atau hanya sekedar mencari informasi – informasi menarik melalui internet.

          Kebetulan waktu itu aku sedang online di facebook. Ada sebuah pesan masuk untukku. Ternyata itu dari Nadila, teman lamaku yang sekarang sedang kuliah di London. Kurang lebih sudah tiga tahun kami tak berjumpa. Dia menanyakan tentang kabarku dan dia juga mengabariku bahwa minggu depan dia akan mengunjungiku, sekaligus berlibur. Tak menunggu lama, aku pun segera membalas pesan itu. Namun tiba – tiba perutku sakit. Sepertinya ini karena aku belum makan. Mungkin aku terlalu sibuk dengan semua kegiatanku hingga usrusan makan pun aku lupa.

          Baru saja aku ingin menyalakan motor, hujan turun dengan derasnya. “Ahh, sial !!” ucapku sambil kembali masuk ke dalam kamar. Niatku ingin membeli sebungkus nasi goreng di seberang jalan itu. Tapi..., ya sudahlah. Menunggu hujan berhenti tidak masalah bagiku. Aku pun kembali pada pesan temanku. Usai mengirim pesan, perutku kembali menegurku. Ditambah dengan suaranya yang aneh. Tapi aku bisa apa? hanya menunggu hujan reda.

          Tiba – tiba seseorang mengetuk pintu kamar kosku, “siapa ya..?”, tanyaku. “Pengantar pizza..” jawab orang itu. Dalam hati aku bertanya – tanya, “rasanya tadi aku tidak pesan pizza. Apa orang itu hanya main – main?”. Dengan ragu, aku membuka pintu. Ternyata dia benar – benar pengantar pizza, “ini pizzanya, mbak.” katanya sambil menyodorkan sekotak pizza sambil tersenyum. Hatiku semakin bertanya – tanya, karena bukan aku yang memesan pizza itu. Tapi aku juga tidak tega padanya. Bayangkan saja, ditengah derasnya hujan dan sunyinya malam, dia tetap menjalankan tugasnya. Bagaimana kalau alamat yang dia tuju ternyata jauh dari sini? Tanpa pikir panjang lagi, segera ku terima pizza itu dan bertanya,”berapa mas?”, “Loh, mbak kan sudah transfer uangnya dan sudah saya terima, kok.” Jawabnya. “Mas ini kan sudah repot – repot ke sini, apalagi sekarang sedang hujan. Ini buat ketulusan hati mas karena sudah mengantarkan pizza ini, makasih ya.” Ucapku sambil memberinya selembar uang sepuluh ribu rupiah. Si pengantar pizza itu pun tersenyum lalu bergegas pergi.

          Di dalam kamar, aku terus memandangi kotak pizza itu. Hanya itu yang bisa ku lakukan, karena aku tidak mungkin memakannya. Namun lagi – lagi perutku menegurku. Kali ini rasa sakitnya makin terasa.

          “Tok.. tok.. tok..” pintu berbunyi lagi. “Apa si pengantar pizza itu kembali?” ucapku dalam hati. Pikiranku salah, ternyata seorang gadis yang tampaknya seumuran denganku. “Maaf, apa tadi ada orang yang mengantar pizza ke sini? Orang itu salah mengirim.” jelas gadis itu. “Oh iya, sebentar ya..” kataku. Gadis itu menerimanya dan bertanya lagi, “kamu sudah makan?”, “tadinya aku mau beli makanan di luar, tapi tiba – tiba hujan.” jelasku. “kalau begitu, kita makan pizza ini sama – sama, yuk..”. Dengan sedikit malu, ku terima ajakannya itu. Sambil menyantap pizza, kami berdua asik bercengkrama.

          Dari kejadian itu, aku tahu namanya adalah Bunga, dia orang baru yang tinggal di samping kamar kosku. Dia juga kuliah di tempat yang sama denganku. Dan sejak saat itulah kami saling kenal dan menjalin pertemanan.



-.- SELESAI -.-