https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEgmrNmoHTkp2lWYF2b1Bz3Rlb8iH90NqTRNT7FHxYo360D9Q6LrYm77YkNxvZ7YdeCbx8pLE72fOULS_4HMnE2LMFZ7M-DI-0NxMO-3YSkUscHkpajQM6ESt_syticA8mxpcOhliWANMiM/s1600/Untitled.png Rahmatika Dewi ^^

Jumat, 30 Maret 2012

DARI TAKSI KE ASURANSI

Malam semakin larut. Bu Laila berniat menutup warungnya meski suaminya, Pak Zain belum juga pulang. Nisa, anak pertamanya pun sudah tertidur lelap. Meski sudah menutup warungnya, Bu Laila masih tetap terjaga sambil berdo’a untuk keselamatan suaminya. Pak Zain, memang sudah menjadi supir taksi sejak tiga tahun lalu dan tiga tahun lalu juga ia dan isterinya pertama kali menginjakkan kaki di ibukota. Ia sudah mengalami berbagai macam kejadian selama menjadi supir taksi. Bahkan pernah suatu ketika ia dihampiri oleh para preman untuk dimintai uang, namun kala itu Pak Zain belum mendapat uang sepeserpun. Akhirnya ia pun terpaksa menerima pukulan dari para preman itu.

          Ketika mendengar suara mobil berhenti disamping kontrakannya, Bu Laila pun segera membuka pintu. “Assalamu’alaikum, bu.” , “Wa’alaikum salam, pak.” jawab Bu Laila dengan senyum. “Bagaimana kabar anak kita ?” tanya Pak Zain sambil mencium perut isterinya, “Alhamdulillah baik, pak.” lalu duduk diatas ranjang tidur. “Bapak sudah makan ?” lanjut Bu Laila, “Sudah.” jawab Pak Zain sambil bergegas mandi. Usai mandi, lampu dalam kontrakan itu pun akhirnya dimatikan. Satu jam berlalu, Pak Zain belum juga terlelap. Ia masih mengingat tentang sekoper uang tak bertuan yang tertinggal di dalam taksinya tadi siang, yang sekarang sudah dipindahkan ke bagasi. Ia tak tahu harus melakukan apa. Jika ia melaporkan ke polisi, mungkin saja ia akan jadi tersangka karena sebuah tuduhan, tapi jika ia bercerita kepada isterinya, mungkin ia akan lebih tidak tenang. Yang jelas malam ini Pak Zain tidak bisa tidur.

          Keesokan harinya, Pak Zain yang biasanya bangun setelah isterinya membangunkannya, hari itu terbangun karena tak kunjung terlelap. Semalaman ia hanya bergonta ganti posisi tidurnya. Dilihatnya jam dinding sudah menunjukkan pukul tiga pagi. Karena masih tidak bisa tidur dan tidak tahu juga apa yang harus dilakukan, Pak Zain melihat mobil taksinya dari jendela samping kontrakannya. Ia terkejut setelah melihat bagasi taksinya terbuka. Segera ia bergegas keluar menghampiri taksinya. Dan ternyata koper hitam berisi uang yang tak bertuan itu telah hilang. Pak Zain pun cepat-cepat menutup bagasi taksinya lalu kembali ke dalam rumah. Baru saja hendak mengunci pintu tiba-tiba seseorang menyentuh bahunya, “Habis darimana, pak?” , “Eh ibu, ehh bapak nggak abis dari mana-mana, kok. Tadi bapak cuma mau keluar aja sebentar.” jawab Pak Zain dengan wajah yang sedikit pucat. Bu Laila memang masih curiga dengan sikap suaminya itu, namun itu masih pagi. Tidak baik bagi seorang isteri, apalagi yang sedang mengandung itu menyimpan curiga terhadap suaminya sendiri, “Toh tak terjadi apa-apa.” kata Bu Laila dalam hati. Melihat waktu yang sebentar lagi subuh, Bu Laila dan Pak Zain pun segera mengambil air wudhu, bersiap untuk shalat subuh.

          Usai shalat subuh, tiba-tiba handphone Pak Zain berbunyi “Halo, Assalamu’alaikum ?” ucap suara yang berasal dari handphone itu, “Wa’alaikum salam, ada apa pak ?” , “Maap saya ganggu pagi-pagi. Begini Zain, kebetulan hari ini ada orang baru. Nah, berhubung yang lain lagi pada rame, mending taksi kamu aja yang dipake ya. Lagian saya denger-denger kamu lagi sepi, gak apa-apa kan, zain ?” , “Hmm, gimana ya pak ? ya udah deh, pak. Silahkan. Ehh, tapi kira-kira sampe berapa lama ya, pak ?” tanya Pak Zain kepada orang itu, “Ya, sekitar satu atau dua minggu, lah. Kalo gitu nanti saya ke rumah kamu ya.” , “Iya, pak.” jawab Pak Zain dengan raut wajah kecewa, “Ya udah kalo gitu, Assalamu’alaikum.” ucap orang itu mengakhiri pembicaraan, “Wa’alaikum salam.” jawab Pak Zain sambil menekan tombol merah di handphonenya. Melihat raut wajah suaminya itu, Bu Laila sudah tahu dan ia memilih untuk tidak bertanya. Ia membangunkan Nisa yang masih tertidur lalu pergi ke dapur untuk menyiapkan sarapan pagi itu. Usai sarapan Pak zain berniat untuk mengantarkan Nisa ke sekolah. Tak lama stelah suami dan anaknya pergi, Pak Rasyid pemilik taksi suaminya itu pun datang dan mengambil kunci lalu pergi dengan taksinya.

          Hari itu Pak Zain pun menganggur. Taksi yang biasanya menjadi teman kerjanya sedang bersama orang lain. “Bu, kamu udah hamil berapa bulan ? 9 bulan ya ?” tanya Pak Zain tiba-tiba, “Iya,  pak. Emang kenapa ?” jawab Bu Laila lalu bertanya. Pak Zain hanya menjawabnya dengan senyum tipis. “Ternyata sebentar lagi, ya.” ucap Pak Zain dalam hati. Ia sadar betul bahwa tujuannya mencari uang saat ini adalah untuk biaya persalinan istrinya. Dan ketika taksi tidak bisa diandalkan, ia pun lekas berpikir, “Apa yang harus kulakukan ?” tanyanya dalam hati. Tiba-tiba datang Bu Rini, tetangga Pak Zain. “Bu, gulanya setengah kilo ya.” , “Iya, bu. Sebentar ya.” jawab Bu Laila lalu mengambil gula.  “Eh, Pak Zain nggak narik hari ini ?” tanya Bu Rini, “Lagi nggak, bu.” , “Oh, kalo gitu kebetulan, dong. Radio saya lagi rusak. Saya denger pak zain bisa benerin radio rusak, bisa gak pak ?” , “Oh radio, iya bisa bu.” , “Kalo gitu ikut saya ke rumah sekarang, ya !”. Pak Zain pun tersenyum lalu berkata, “Iya bu.”. Setelah membayar belanjaannya, Bu Rini pun mengajak Pak Zain untuk ikut dengannya.

          Selesai membetulkan televisi di rumah Bu Rini, Pak Zain pun kembali ke rumahnya. Melihat suaminya yang pulang dengan senyum sumringah itu, Bu Laila pun lekas bertanya, “Seneng banget, pak ? emang dapet duit berapa dari Bu Rini ?” suaminya pun menjawab, “Bu, mulai sekarang bapak mau buka usaha service barang elektronik. Ya, itung-itung bisa jadi tambahan kalo bapak gak ada uang, apalagi kaya’ sekarang ini. Taksi emang gak bisa diandelin selamanya, bu.”. Bu Laila pun tersenyum, “Asal itu halal aja, pak.”.

          Lima hari kemudian, Bu Laila pun melahirkan anak keduanya. Harapan Pak Zain akan anak laki-laki pun terwujud. Ia pun bersyukur juga karena bisa membiayai persalinan isterinya hingga lunas. Anak laki-laki itu diberi nama Ridho. Satu bulan berlalu, Ridho tumbuh menjadi balita yang menggemaskan. Namun ketika itu, usaha service alat elektronik Pak Zain kian sepi. Tiba-tiba datang Pak Warno menghentikan lamunan Pak Zain. “Assalamu’alaikum, Pak Zain.” salam Pak Warno memulai perbincangan, “Wa’alaikum salam, eh pak warno. Ada apa pak ?” , “Nggak, pengin main aja. Hmm, gini pak, saya ini kan kerja di perusahaan asuransi, kebetulan saya sedang mencari agen asuransi. Kira-kira pak zain mau gak jadi agen asuransi ?” jelas Pak Warno bermaksud menawarkan pekerjaan, “Agen asuransi ? tapi saya gak punya bakat kaya’ gitu, pak. Saya ini dari dulu cuma jadi supir taksi aja.” jawab Pak Zain bermaksud menolak, “Kalo jadi agen asuransi itu gak perlu punya bakat, pak. Cukup niat aja, insya Allah bisa.” bujuk Pak Warno.

Pak Zain pun berpikir. Kini ia mempunyai dua orang anak, tentu biaya hidup akan bertambah. Sedangkan pekerjaannya sebagai supir taksi dan membetulkan alat elektronik tidaklah cukup. “Oke pak, saya coba.” , “Bagus kalo gitu. Besok bapak ikut saya ke kantor. Jangan lupa pake baju yang rapi ya, pak.” , “Baik, pak.”. Pak Warno pun lalu pergi. Dengan penuh semangat, Pak Zain mencari kemeja dan sepatunya untuk dipakai esok hari. Namun ternyata kemeja Pak Zain sudah cukup usang, sedangkan sepatunya sudah terlalu jelek untuk dipakai ke kantor Pak Warno. Ia pun bergegas pergi keluar, mendatangi rumah Bu Rini. Waktu itu suaminya bilang ada banyak kemeja dan beberapa sepatu yang sudah tidak digunakan lagi. Mungkin ia masih menyimpannya di gudang. Dan benar saja, Pak Zain pun mendapatkan apa yang ia cari, bahkan ia juga mendapat sebuah dasi. Pak Zain tak sabar untuk pergi ke kantor bersama Pak Warno besok.

Dan sejak saat itu, Pak Zain beralih profesi. Dari supir taksi menjadi agen asuransi. Bahkan karena prestasi yang ia dapatkan di kantornya, ia pun mendapatkan penghargaan berupa pengangkatan jabatan sebagai pegawai tetap. Kini Pak Zain menjalani hidup yang penuh dengan kebahagiaan bersama isteri dan dua orang anaknya di rumah baru sebagai Kepala Cabang di di kantornya.




SELESAI

SERIBU RUPIAH


                Terdengar suara langkah kaki berlari dari luar kelas, “Eh semuanya, Bu Lili gak masuk hari ini. Katanya lagi ke Jogja.“ ucap Messy yang sedikit terengah-engah. Jujur kami senang mendengarnya. Guru ‘killer’ itu tidak masuk. Kala itu aku masih duduk di bangku sekolah dasar, tepatnya kelas 3 SD. “Trus kita ngapain ?“ tanya seseorang di kelasku, “Katanya disuruh ngerjain soal, nih soalnya. Tapi harus ditulis di papan tulis.“ jawab messy. Sanny, teman sebangkuku yang sedari tadi sedang asyik menggambar tiba-tiba ikut bicara, “Lah, kan spidolnya ilang, mes.“ Messy yang baru ingin duduk di kursinya itu pun segera bangkit lagi, “Oiya, ilang ya ? kalo gitu minjem ke Bu Turi aja. Yuk, Nur.“ ucap Messy sambil menggandeng tangan Nur lalu pergi.

          Beberapa saat kemudian mereka pun datang. Messy dengan rasa lelahnya tetap tidak bisa memberikan tugasnya kepada yang lain. Ya, dia memang anak kesayangannya Bu Lili. Melihat Messy menulis di papan tulis, kami pun segera beranjak dari kegiatan kami masing-masing. Belum lama Messy menulis tiba-tiba tinta spidol itu habis. Messy pun berhenti sejenak. “Kok berenti sih, mes ?“ tanya Nur, “Tintanya abis.“ jawab Messy singkat. “Coba aja minta ama Bu Turi !“ celetuk tri, “Ah, capek gua. Dari tadi bolak balik mulu. Elu aja gih, Tri !“ jawab Messy dengan nada ngotot. “yah, masa’ gitu aja capek ?! yang biasa lapor guru kan elu, mes. Udah sono lu aja, gua lagi males ketemu ama bu Turi.“ rayu Tri dengan maksud agar ia tak bertemu Bu Turi, paling tidak setelah ia tak sengaja menumpahkan saus ke kemejanya waktu itu. Demi menjaga imagenya sebagai wakil ketua kelas, Messy pun bergegas pergi menemui Bu Turi tanpa ditemani Nur lagi.

          Kali ini Messy kembali agak lama, bahkan hingga anak-anak selesai menulis. Tentu saja, mengisi tinta spidol memang agak merepotkan. Apalagi bila tintanya bocor. Messy pun kembali lalu berkata, “Eh semuanya, kata Bu Turi tinta spidolnya kan abis, jadinya kita disuruh ngumpulin duit buat beli tintanya “. Sekejap kami terdiam sambil keheranan. “Lah, kenapa jadi kita yang disuruh ngumpulin duitnya ? emangnya Bu Turi gak punya duit apa ?“ tanya Tri, “Gak tau tuh, pokoknya kita harus ngumpulin duit buat beli tinta sekarang. Kalo nggak tugasnya gak bakalan selesai.” jawab Messy memaksa. Dengan terpaksa anak-anak pun memberikan uangnya, kecuali aku. Ketika Messy datang ke mejaku, aku pun menolak untuk memberikan uangku, “Eh Riza, cepetan bayar !” , “Eh, yang bener aja dong, duit gua tuh cuma seribu dan gua belom jajan. Kalo lu ambil duitnya, ntar gua jajan apaan ? gua tuh laper daritadi belom makan, lu tega sama gua ?” ucapku dengan nada menolak. “Kalo lu gak bayar, ntar gua bilangin Bu Lili, lho. Sini buruan, pelit banget sih, lu !” Messy tetap memaksaku dan akhirnya seribu rupiahku pun diambil paksa olehnya, demi tinta spidol itu. Aku pun merasa geram. Ku pikir kenapa aku harus memberikan uangku, sementara aku belum menggunakannya sedikitpun. Aku lapar, aku belum makan. Memangnya siapa yang akan memberikan uang jajannya padaku dengan sukarela, bahkan teman sebangkuku sekalipun. Ketika bel pulang sekolah berbunyi, aku pun bergegas pergi meninggalkan kelasku. Aku berlari sambil menangis, mencaci maki Messy dalam hati.

          Sesampainya di rumah, segera ku ceritakan sebab menangisku kepada orang tuaku yang kebetulan sedang asik bercengkrama di dalam rumah. “Udah, gak usah nangis. Nanti biar bapak yang ke sekolah buat jelasin semuanya, ya pak, ya !” ucap ibuku yang berusaha menghentikan tangisku, lalu ayahku mengangguk. Keesokan harinya aku berangkat ke sekolah dengan diantar oleh ayahku. Meski biasanya aku berangkat sendiri, tapi kali ini ayahku ingin menjelaskan apa yang terjadi kemarin kepada guru sekolahku. Entah kenapa hari itu aku merasa tidak nyaman berada di kelas. Selain harus bertemu dengan Messy lagi, aku juga sudah mendapat julukan lain di kelasku dan itu hampir diketahui oleh seluruh anak-anak di kelas. “Eh, awas awas, ada orang pelit dateng.” sindir Messy padaku ketika aku baru masuk ke kelas setelah dari kantin. “Sabar ya, tik.” ucap Sanny menghiburku. Tapi aku tetap tak menanggapi sindiran itu, hingga bel pulang sekolah berbunyi.

          “Za, jangan lupa ya besok kita ada praktek KTK.” kata Sanny mencoba mengingatkanku, “Iya, makasih ya udah ngingetin.” ucapku berterimakasih. Hari itu aku mencoba untuk tak memikirkan apa yang telah terjadi di sekolah, tapi beranjak untuk memeriksa perlengkapan untuk praktek KTK esok hari. Ketika pagi dimulai, aku berharap semoga hari ini aku bisa tersenyum lagi, dan semoga masalahku tak lagi menjadi topik pembicaraan di kelas. Amin.

          Bel masuk sekolah pun berbunyi. Terdengar suara langkah kaki menuju kelasku. “Apa Bu Lili bakal masuk hari ini ?” tanyaku dalam hati. Dan ternyata itu benar Bu Lili. Seperti biasa, dengan wajah ketusnya ia pun mengawali pembelajaran. “Hari ini kita praktek ya, semuanya pada bawa bahan-bahannya kan ?! siapa yang gak bawa ?” sejenak ruangan tampak sunyi. Untungnya tidak ada satupun dari kami yang tidak membawa bahan-bahan praktik KTK, kalau ada mungkin anak itu akan habis dimarahi Bu Lili. Tak lama kemudian, praktik pun dimulai. Pertama tama Bu Lili memberikan contoh awal cara membuat boneka dari botol minuman yakult. Setelah selesai dan semua anak-anak paham, Bu Lili pun mempersilahkan kami untuk mencoba membuat boneka itu. Ditengah proses pembuatan tiba-tiba aku kehabisan lem. Segera aku mencari pinjaman. Karena tak melihat lem dimeja teman-temanku, aku pun memberanikan diri meminjam lem kepada Bu Lili. “Bu, saya mau pinjam lemnya ya.” , “Ngapain kamu minjem sama saya ? minjem duit seribu aja pelit banget. Udah sana, pinjem sama yang lain !” balas Bu Lili dengan nada kesal.

          Aku pun terdiam lalu kembali ke tempat dudukku. “Udah, Tik tenang. Nih, pake punya gua aja.” ucap Sanny sambil sedikit merangkulku. Dalam hati aku menjerit keras. Mengapa hal ini bisa terjadi padaku ? apakah aku salah mempertahankan seribu rupiahku itu demi diriku sendiri ? toh meskipun uang itu telah aku berikan, aku tetap saja dimaki-maki, bahkan oleh guruku sendiri. Sungguh, ini kali pertama aku dimarahi oleh guruku sendiri, hanya gara-gara uang seribu rupiah itu.




                                                            SELESAI

Kamis, 05 Januari 2012

PIZZA PERTEMANAN

Malam itu, aku baru sampai di kamar kosku. Karena aku mengambil mata kuliah jam malam. Ku lihat di handphoneku menunjukkan pukul 21.00. Seperti biasa sepulang kuliah, kunyalakan laptopku untuk mengerjakan tugas atau hanya sekedar mencari informasi – informasi menarik melalui internet.

          Kebetulan waktu itu aku sedang online di facebook. Ada sebuah pesan masuk untukku. Ternyata itu dari Nadila, teman lamaku yang sekarang sedang kuliah di London. Kurang lebih sudah tiga tahun kami tak berjumpa. Dia menanyakan tentang kabarku dan dia juga mengabariku bahwa minggu depan dia akan mengunjungiku, sekaligus berlibur. Tak menunggu lama, aku pun segera membalas pesan itu. Namun tiba – tiba perutku sakit. Sepertinya ini karena aku belum makan. Mungkin aku terlalu sibuk dengan semua kegiatanku hingga usrusan makan pun aku lupa.

          Baru saja aku ingin menyalakan motor, hujan turun dengan derasnya. “Ahh, sial !!” ucapku sambil kembali masuk ke dalam kamar. Niatku ingin membeli sebungkus nasi goreng di seberang jalan itu. Tapi..., ya sudahlah. Menunggu hujan berhenti tidak masalah bagiku. Aku pun kembali pada pesan temanku. Usai mengirim pesan, perutku kembali menegurku. Ditambah dengan suaranya yang aneh. Tapi aku bisa apa? hanya menunggu hujan reda.

          Tiba – tiba seseorang mengetuk pintu kamar kosku, “siapa ya..?”, tanyaku. “Pengantar pizza..” jawab orang itu. Dalam hati aku bertanya – tanya, “rasanya tadi aku tidak pesan pizza. Apa orang itu hanya main – main?”. Dengan ragu, aku membuka pintu. Ternyata dia benar – benar pengantar pizza, “ini pizzanya, mbak.” katanya sambil menyodorkan sekotak pizza sambil tersenyum. Hatiku semakin bertanya – tanya, karena bukan aku yang memesan pizza itu. Tapi aku juga tidak tega padanya. Bayangkan saja, ditengah derasnya hujan dan sunyinya malam, dia tetap menjalankan tugasnya. Bagaimana kalau alamat yang dia tuju ternyata jauh dari sini? Tanpa pikir panjang lagi, segera ku terima pizza itu dan bertanya,”berapa mas?”, “Loh, mbak kan sudah transfer uangnya dan sudah saya terima, kok.” Jawabnya. “Mas ini kan sudah repot – repot ke sini, apalagi sekarang sedang hujan. Ini buat ketulusan hati mas karena sudah mengantarkan pizza ini, makasih ya.” Ucapku sambil memberinya selembar uang sepuluh ribu rupiah. Si pengantar pizza itu pun tersenyum lalu bergegas pergi.

          Di dalam kamar, aku terus memandangi kotak pizza itu. Hanya itu yang bisa ku lakukan, karena aku tidak mungkin memakannya. Namun lagi – lagi perutku menegurku. Kali ini rasa sakitnya makin terasa.

          “Tok.. tok.. tok..” pintu berbunyi lagi. “Apa si pengantar pizza itu kembali?” ucapku dalam hati. Pikiranku salah, ternyata seorang gadis yang tampaknya seumuran denganku. “Maaf, apa tadi ada orang yang mengantar pizza ke sini? Orang itu salah mengirim.” jelas gadis itu. “Oh iya, sebentar ya..” kataku. Gadis itu menerimanya dan bertanya lagi, “kamu sudah makan?”, “tadinya aku mau beli makanan di luar, tapi tiba – tiba hujan.” jelasku. “kalau begitu, kita makan pizza ini sama – sama, yuk..”. Dengan sedikit malu, ku terima ajakannya itu. Sambil menyantap pizza, kami berdua asik bercengkrama.

          Dari kejadian itu, aku tahu namanya adalah Bunga, dia orang baru yang tinggal di samping kamar kosku. Dia juga kuliah di tempat yang sama denganku. Dan sejak saat itulah kami saling kenal dan menjalin pertemanan.



-.- SELESAI -.-

Kamis, 08 Desember 2011

Gara - gara Tuti

Setelah membawakan lagu terakhir dalam acara itu, Begin Boys segera keluar dari panggung. Namun seperti biasa, para wartawan serta B’Boys lovers sudah menghadang mereka di pintu keluar. Karna tidak ada pintu keluar yang lain, maka Begin Boys terpaksa memilih pintu tersebut. Mereka pun cepat – cepat masuk ke dalam mobil.

Sony       : “gila!!, tuh orang - orang gak pernah ada abisnya yah ngejar ngejar kita. Bosen
                    banget gw.”
Ronald  : “biasa aja kali, son. Lagyan lu kan gabung ama kita udah hampir sebulan.”
Sony     : “eh, kali ini tuh beda tau. Gila’nya parah banget, ampe gw gak bisa jalan.”
David    : “eh, berisik banget sih lu berdua. Kita tuh sekarang udah di mobil.”
Sony     : “kenapa lu? Gak suka? Kalo gak suka turun aja lu dari sini.”
Maya    : “aduuh, kenapa jadi pada ribut, sih? Kaya’ anak kecil aja.”
Sony     : “bawel banget sih, lu. Gak usah ikut campur deh.”
Tomas  : “udah son, udah. Gak usah di dengerin.”

            Sekejap perdebatan pun berhenti. Tak lama berselang, mereka tiba di base camp.

Maya   : “sekarang istirahat aja dulu, besok gw kesini lagi.”
David   : “emang besok ada show dimana lagi may?”
Sony    : “what? Jadi besok kita manggung lagi?? Aduh may, bisa gak sih libur sehari aja?!
                 hari ini badan gw pegel pegel semua may.”
Maya   : “tapi acara besok tuh udah disetujuin sebulan yang lalu, jadi gak bisa ditunda lagi.”
Ronald : “udah lah, son. Terima aja. Resiko jadi anak band ya gitu.”
David   : “ron, jangan bikin panas suasana deh.”
Ronald : “gw kan cuma ngingetin dia aja, vid. Santai dong.”
Maya   : “yaudah, besok gw kesini jam, tujuh. Eh, setengah tujuh aja deh. Jadi gak ada alesan
                 telat bangun lagi ya, ok?! Dha..”
Tomas : “hah? Tadi dia bilang apaan? Setengah tujuh?? Beneran son, setengah tujuh?”
Sony    : “aaahhh, gak tau ah. Gw capek, mo tidur.”
Ronald : “makanya, tuh kuping jangan keseringan disumpelin, budek, budek deh lu.”
                 (berjalan menuju ruang tidur).

            Keesokan harinya setelah selesai dalam satu acara, mereka bergegas kembali ke mobil untuk segera kembali ke base camp.

Ronald : “asiik, untung cuma bentaran aja, bisa lanjutin lagi deh maennya. Haha..”
Maya   : “jangan seneng dulu dong, ron. Kita masih ada show lagi lho, di Bandung nanti
                 malem. Mending latian, daripada main game.”
Sony    : “eeh, may. Gw mo ke rumah sakit.”
Maya   : “oh, yaudah. Tapi jangan sampe sore ya.”
Sony    : “ok.”

            Segera Sony menyetop taxi lalu berangkat menuju rumah sakit. Sesampainya di rumah sakit, sony bergegas ke lantai dua. Di sana tampak seseorang terbaring lemas. Dia adalah kakak sony yang sama sama bernama sonny.
Sony    : “hai, kak. Gimana keadaannya? Udah sembuh, kan?”
Sonny  : “belom, sih. Tapi agak mendingan, kok. Kamu udah makan?”
Sony    : “loh, kok malah kakak yang nanya, harusnya aku dong. Kakak udah makan belom?”
Sonny  : “udah. Baru selesai. Eh, gimana rasanya jadi anak band? Capek, ya?”
Sony    : “jelas lah kak. apalagi kemaren, seharian tiga kali show, pulang malem, badan pegel
                 semua, poko’nya bener – bener nguras tenaga banget deh, kak. Makanya, kakak
                 cepet sembuh, byar aku nggak sering kecape’an kaya’ gini terus. Jujur aja kak, aku
                 tuh mendingan ngelukis seharian daripada ngeband gak jelas gini.”
Sonny  : “penginnya kakak juga gitu, kakak kangen ngeband bareng kaya’ dulu, kakak juga
                 gak mau kamu terus2an jadi diri kakak di depan semua orang, tapi mo gimana lagi,
                 kakak belom bisa pergi dari sini. Maaf ya, kakak janji kalo kakak bakal cepet
                 sembuh buat kamu dan juga Begin Boys.”
Sony    : “makasih, kak.” (sambil memeluk kakaknya)
Sonny  : “tapi kakak pesen satu hal sama kamu, kalo nanti kakak pergi duluan, kamu jaga diri
                 baik – baik, jangan bikin malu diri sendiri dan jangan pernah nyerah sama
                 keadaan yang ada.”
Sony    : “iya, kak. Tapi mudah2an sih kita bisa selalu bareng bareng, seneng atau nggak.”

            Sang kakak pun tersenyum. Ia hanya berharap bisa terus bersama adiknya, walau dalam kondisi terbaring lemas di rumah sakit. Sebenarnya usia mereka berdua selisih tiga tahun, tapi jika dilihat, wajah mereka berdua memang nyaris sama, layaknya saudara kembar. Kehadiran sony mario (adik) dalam Begin Boys dalam rangka menggantikan posisi kakaknya, sonny raymond sebagai gitaris Begin Boys. Namun itu hanya dilakukan sementara hingga sang kakak sembuh dari sakitnya.
            Tak terasa waktu sudah hamper sore, sony pun berpamitan pada kakaknya lalu pergi meninggalkan ruangan itu. Di tengah perjalanan menuju lift, ia tak sengaja bertabrakan dengan seorang gadis.

Sony    : “aduh, kalo jalan liat liat dong.”
Tuti      : “ehh, ada juga mas yang liat liat. Loh, ini kan mas sony, mas sony remon kan?
                 Pemain gitar Begin Boys, iya kan? iya kan?
Sony    : (dalam hati, “aduh, gawat. Jangan jangan ni cewek B’Boys lovers juga. Aduuh..”)
Tuti      : “loh, kok mas malah bengong sih? Jawab dong mas. Ini bener mas sony kan?!”
Sony    : “i ii iya, tapi plis ya, jangan nyubit nyubitin badan gw, tadi pagi tuh pegelnya baru
                 ilang, ya.. ya..!!”
Tuti      : “ngapain juga saya nyubitin badan mas sony, mas sony kan idola saya. Saya cuma
                 mau minta poto sama tanda tangan aja, kok.”
Sony    : “bagus deh.” (lalu berfoto dan memberi tanda tangan)
Tuti      : “oia, kenalin nama saya Tuti sukarni, saya tinggal di kampung sawah ijo, saya ini
                 B’Boys lopers sejati dan ngefans banget sama mas sony. Saya seneng banget bisa
                 ketemu mas sony di sini. Tapi, mas sony lagi ngapain di sini? Mas sony sakit ya??
                 sakit apa mas? mana yang sakit mas? nanti biar saya pijitin pake minyak gosok
                 buatan mbo karsih.”
Sony    : “iiihh, apa – apaan sih lu. Gw tuh sehat sehat aja tau, gak usah lebay deh. Lagyan
                 siapa juga yang mo dipijitin sama lu.”
Tuti      : “yaudah, kalo gitu saya kasih hadiah aja nih mas, ini khusus buat mas sony idolaku.
                 Disimpen ya, mas. jangan sampe ilang. Dha.. dha..”
Sony    : “hee..” (dalam hati, “awas aja isinya surat nora’ lagi”)

            Sony pun segera menuju lift yang sudah menunngunya. Sampai di base camp, ia langsung masuk ke kamar mandi. Lalu bersiap – siap untuk show di Bandung malam itu. Setelah semua sudah siap, mereka pun berangkat.
            Sementara itu di rumah sakit yang sama dengan kakak sony, sedang dirawat pula temannya Tuti.

Tuti      : “eh, nur udah bangun.”
Nur      : “udah bangun dari tadi, kok. Kamu dari mana aja, sih?”
Tuti      : “hehe, tadi abis ngobrol sama tukang sapu di bawah. Oia nur, aku punya cerita nur,
                 pasti kamu ndak bakal percaya kalo tadi aku tuh abis ketemu sama idolaku, mas
                 sony remon, yang main gitar di Begin Boys.”
Nur      : “ah, yang bener kamu, mana mungkin bisa ketemu sama artis di sini, dia itu kan
                 orang sibuk.”
Tuti      : “beneran nur. Kalo ndak percaya, nih aku ada buktinya. Ini poto aku sama mas sony,
                 trus ini tanda tangannya. Aku ndak bohong, kan?!”
Nur      : “wah, iya ya. Aduuh, kok kamu ndak bangunin aku, sih. Aku kan juga mau. Curang.”
Tuti      : “lah, gimana aku bangunin kamu. Kamu itu kan lagi sakit, harus banyak tidur. Kalo
                 masalah ketemu sama mas sony, itu emang rejeki aku, nur. Ndak usah jengkel.”

            Tuti lalu melihat isi tas kantungnya untuk mengeluarkan kotak hadiah untuk nur yang berisi permen jahe dan minyak gosok kelapa.

Tuti      : “nih nur, biar kamu ndak jengkel lagi sama aku, ini aku punya hadiah buat kamu.”
Nur      : “apa ini?” (lalu membuka kotak) “loh, kok isinya kayak gini? Poto poto mas sony
                 semua.”
Tuti      : “hah, poto? Coba liat, loh kok, tapi tadi aku, wah, jangan jangan, ketuker. Aduuhh,
                 gawat, bener bener gawat ini, nur.”
Nur      : “gawat? Gawat kenapa toh?”
Tuti      : “gawat, nur. Tadi aku bawa dua kotak, yang satu isinya permen jahe sama minyak
                 gosok, yang satunya lagi isinya ini, poto poto mas sony. Kalo poto poto mas sony
                 ada disini, berarti kotak yang aku kasih ke mas sony tadi itu isinya permen jahe
                 sama minyak gosok. Aduuh, gimana ya nur, takutnya mas sony pingsan gara – gara
                 nyium minyak gosok itu.”
Nur      : “ya, berarti salah kamu. Salah ngambil dan salah ngasih juga.”
Tuti      : “aduuhh, mudah2an mas sony ndak kenapa kenapa, deh.”

            Malam hari di base camp, para personil Begin Boys tengah asik bernyanyi sambil makan malam bersama. Sony teringat tentang kotak hadiah dari fansnya tadi siang. Ia pun segera mengambil kotak itu dan kembali bergabung bersama teman – temannya.

Tomas : “weitss, apaan tuh son?”
Sony    : “ah, lu. Kaya’ gak tau gw aja, fans gw tuh di mana – mana, men. Mereka tuh selalu
                 ngantri buat tanda tangan n foto gw. Bahkan ampe yang di rumah sakit.”
Ronald : “alah, gaya lu selangit. Paling paling isinya surat nora’ lagi, kaya’ waktu itu.
                 Hahaha.”
Sony     : “dari pada lu, gak pernah dapet apa - apa dari fans.”
Tomas  : “emang dia punya fans, son?”
Sony     : “gak tau deh, kaya’nya sih enggak. Hahaha.”
Ronald : “udah deh, gak usah banyak ngomong lu, buka dong kotaknya, penasaran gw.”
(sony pun membuka kotak tsb)
Sony     : “hah, apaan nih??”
Ronald : “ah, gimana sih fans lu, masa’ ngasihnya beginian. Apaan coba?!”
David   : “eh, coba sini gw liat!”
Sony     : “nih.”
David   : “kalo gak salah, ini tuh permen jahe sama minyak gosok. Gw pernah liat waktu kita
                  beli oleh - oleh di Semarang.”
Ronald : “haha, tuh kan bener, gw bilang juga apa. Ternyata sama nora’nya kaya’ surat
                  waktu itu. Masih mending gw, dong?! Hahaha.”
Tomas  : “ih, baunya kok gak enak gitu ya? Nyengat banget, lagi.”
Sony     : “ah, pada lebay lu semua. Ini tuh minyak gosok tradisional bermanfaat tau, bisa
                  buat ngilangin pegel – pegel. Fans gw emang bener - bener sayang ya sama gw.
                  Pasti wangi banget nih minyak, ampe nyengat gitu.”
(sony pun mencium wangi minyak gosok itu, dan tiba - tiba ia pingsan)
Tomas  : “eh, eh, son. Son, bangun, son. Aduuh, son, son.”
Ronald : “waduuuh, bukannya bikin enak badan, malah bikin pingsan. Jahat banget tuh
                  orang, brani - braninya ngasih racun ke sony. Ckckck.”
David   : “hmm, jangan - jangan itu minyak gosok kunyit, lagi.”
Tomas : “emang kenapa kalo minyak gosok kunyit?”
David   : “waktu itu tante gw juga pingsan pas pertama kali nyobain minyak ini. Trus gw
                 tanya ama tukang jualan minyak angin, katanya sih kalo baru pertama kali nyium,
                 efek sampingnya bisa ampe pingsan, bahkan  kalo yang paling parah bisa ampe
                 panas dingin seharian.”
Ronald : “panas dingin? Lumayan juga nih minyak, pantes aja wanginya nyengat banget.”
Tomas  : “yaudah, sekarang mendingan kita bawa masuk aja si sony, bantuin gw, dong!”

            Pagi harinya..

Sony     : “aduuh, pala gw.”
Tomas  : “eh, lu udah bangun, son? Syukur deh, gw kira lu gak bakal bangun lagi.”
Sony     : “sembarangan aja lu kalo ngomong, jam berapa nih?”
Tomas  : “jam 8. tenang aja, hari ini gak ada jadwal manggung, kok. Adanya pemotretan.”
(Ronald dan David pun datang)
Ronald : “eh, udah bangun. Gimana tidurnya? Asik, kan?”
Sony     : “diem, lu. Pala gw masih pusing, nih. Emang kemaren gw kenapa sih, tom?”
Tomas  : “lu lupa? Semalem lu pingsan gara - gara tuh minyak.”
Sony     : “pingsan? Emang tuh minyak isinya apaan ampe bikin gw pingsan?”
David    : “sory, son. Gw lupa bilang ke lu, kalo tuh minyak punya efek samping buat orang
                  yang baru pertama kali nyium baunya. Sory, ya.”
Sony      : “ah, gimana sih, lu. Pake lupa ngomong efek sampingnya. Masalahnya, pala gw
                   masih pusing, nih. Kalo gitu, lu harus tanggung jawab ya. Itu lu bawa apaan?”
David     : “ini, nasi uduk. Mo gw suapin?”
Sony      : “hmm, boleh juga tuh. Kalo gitu buruan deh, gw laper banget nih.”
Ronald : “ah, lagak lu kaya’ raja. Cuma pusing aja minta disuapin, dasar manja.”
David   : “udah lah, ron. Dia kan yang paling muda. Lagian, ini salah gw juga, kok.”
Tomas : “haha, cemburu kali tuh, pengen disuapin juga, hahaha.”
Ronald : “berisik lu.”
Sony     : “eh, dari pada berisik, mending lu pijitin pala gw, nih. Cepetan!”
Tomas  : “hah, mijitin? i, iya deh.”
Ronald : “aduuh, kasian banget jadi babu temen sendiri, hahaha.”
Tomas  : “iihh, awas lu, ron.”

            Waktu menunjukkan pukul sembilan lewat sepuluh menit. Sony sudah bersiap - siap untuk pergi mengunjungi kakaknya lagi di rumah sakit. Sesampainya di rumah sakit, sony melihat Tuti, fansnya yang kemarin memberikannya hadiah. Sony pun segera menghampirinya.

Sony     : “eh, lu Tuti kan? Yang kemaren ngasih gw minyak gosok yang bikin gw pingsan, iya
                  kan? Ngaku, lu!”
Tuti       : “iya, mas sony. Maaf, ya. Saya ndak sengaja, sebenernya itu buat temen saya yang
                  lagi dirawat disini. Skali lagi, maaf ya, mas.”
Sony     : “enak aja lu minta maaf. Pokonya lu harus ganti rugi.”
Tuti       : “oh, tenang aja, mas. Sebagai gantinya saya kasih hadiah yang buat mas sony
                  beneran nih, sama kue khas kampung saya, ini namanya semprong pandan.
                  Dijamin enak deh, mas.”
Sony     : “yaudah, tapi kalo ampe ada apa - apa abis makan ini kue, gw laporin lu ke polisi.”
Tuti       : “sip, mas. Ndak usah khawatir. Tapi ngomong - ngomong mas lagi ngapain, sih?
                  Kemarin saya nanya ndak dijawab.”
Sony     : “eh, terserah gw dong mo ngapain. Lagian ngapain juga lu nanyain, so’ deket
                  banget sih, lu. Minggir.”
Tuti       : “aduh, mas sony. yo wis lah.”

            Sesampainya di kamar kakaknya sony.

Sony     : “pagi, kak.”
Sonny   : “pagi, tumben kesini pagi – pagi, gak ada jam manggung?”
Sony     : “lagi gak ada, kak. Makanya aku kesini aja. Kakak udah makan belom?”
Sonny   : “udah. Eh, kamu bawa apa tuh?”
Sony     : “oh, ini dari fans. Tadi gak sengaja ketemu di lobby. buka aja, kak.”
Sonny   : “wah, keren banget nih. Siapa namanya?”
Sony     : “namanya? Nama siapa, kak?”
Sonny   : “ya, nama fans kamu yang ngasih kado ini.”
Sony     : “oh, namanya Tuti, kak. Tuti siapa gitu, aku lupa. Emang kenapa?”
Sonny   : “nggak, kakak gak nyangka aja, dia bisa kumpulin foto - foto sebanyak ini. Udah gitu
                  dihias juga, lagi. Kalo itu apa, son? Yang di dalem plastik?”
Sony     : “ini dari Tuti juga, kak. Katanya sih, namanya kue semprong pandan. Tapi
                  mendingan gak usah dicobain, kak.”
Sonny   : “loh, emang kenapa? Kaya’nya enak tuh, son.”
Sony     : “luarnya emang cakep, kak. Tapi dalemnya siapa yang tau? Makanya, kakak harus
                  ati ati, jangan gampang ketipu sama penampilannya.”
Sonny   : “maksudnya?”
Sony     : “sekarang ini kan udah gak ada makanan yang aman, kak. Apalagi makanan yang
                  pake warna kaya’ gini, pasti gak baik, kak. Lagian, kakak kan masih sakit, aku gak
                  mau kalo penyakit kakak tambah parah.”
Sonny   : “tapi, kakak bosen sama makanan disini, son. Kakak mau makan makanan yang
                  lain.”
Sony     : “kak, ini tuh demi kakak juga. Supaya kakak cepet sembuh, kakak harus makan
                  makanan yang bergizi. Yaudah, kalo gitu aku pulang dulu ya, kak. Hari ini emang
                  gak ada jadwal manggung, tapi ada tiga pemotretan sama jadi bintang tamu di
                  acara tv. Dha, kakak. Cepet sembuh, ya.”
Sonny   : “iya, ati – ati.”

            Seusai show di Bandung hari itu, mereka kembali ke base camp. Seperti biasa, dalam perjalanan mereka selalu berbincang – bincang.

David    : “eh son, tadi lu ke mana aja sih? Jenguk aja lama banget.”
Sony     : “emang kenapa? Masalah buat lu?! Apa salahnya jenguk lama – lama?”
David    : “ya enggak, tapi tadi tuh sebenernya kita mo ke distronya maya dulu, buat ngambil
                  kostum. Tapi gara - gara nungguin lu kelamaan, gak jadi deh.”
Sony     : “ooh, jadi lu nyalahin gw?! Lu tuh kenapa sih vid? Perasaan semenjak gw ada disini
                  lu tuh kaya’nya gak suka banget sama gw. Mau lu apa sih?”
Tomas  : “weitts, santai dong bro, david kan nanyanya baik – baik. Gak usah sewot gitu
                  dong.”
Maya    : “jangan kaya’ anak kecil gitu dong, son. harusnya lu bisa ngerti sama keadaan.
                  Sekarang tuh lu bagian dari kita, jadi gak perlulah nyari nyari masalah sama temen
                  sendiri.”
Ronald : “oke, kalo gitu kita ganti topik aja. Oia son, hampir lupa gw, makasih ya kuenya,
                  Lumayan enak. Emang lu beli dimana son? Kapan kapan gw nitip ya.”
Sony     : “hah, kue? Kue apaan?”
Ronald : “yah, masa lupa. Bentuknya tuh kaya eggroll gitu, tapi agak gepeng. Trus warnanya
                 ijo. Tadi si tomas juga makan, kok.”
Tomas  : “iya son, makasih juga ya.”
Sony     : “eggroll? Ijo? Jangan - jangan kue itu lagi. Kuenya udah abis??”
Ronald : “hehe, udah son. Abis gak tersisa, malah tadi si tomas mau makan plastiknya juga.”
Tomas  : “enak aja lu, emang gw tong sampah apa?! Sembarangan.”
Sony     : “aduuh, gimana nih. Ah, salahlu juga kenapa langsung dimakan aja, bukannya
                  nanya dulu.”
Tomas  : “lah, emang kenapa son?”
Sony     : “masalahnya itu tuh kue dari si Tuti, fans gw yang waktu itu ngasih gw minyak
                 gosok yang bikin gw pingsan. Pokoknya, kalo ampe lu pada kenapa – napa, jangan
                 nyalahin gw!!”
Ronald : “emang kenapa? Emang ada racunnya?”
Sony     : “ya mana gw tau, iya kali.”
Tomas  : “hah, racun? Duh, gimana nih, ron? Lu nih gara – garanya.”
Ronald  : “lah, kok lu malah nyalahin gw? Lu kan juga ikutan makan.”
Sony     : “saran gw sih, mendingan pas nyampe base camp, cepet - cepet aja ke dokter.”

            Ronald dan tomas pun saling bertatapan sambil berharap semoga kue itu tidak mengakibatkan apa apa. Sesampainya di base camp, mereka semua bergegas masuk dan tidur, kecuali maya yang justru harus kembali melanjutkan perjalanan menuju rumahnya.
            Pagi menjelang. Suara ketukkan pintu terdengar keras dan berulang – ulang.

Maya  : “wooi.. buka pintunyaa!! Udah siang nih, bangun.. bangun.. wooii..”

Tiba - tiba seorang laki laki yang tinggal di sebelah base camp Begin Boys keluar dan memarahi maya.

Tetangga : “heh, berisik banget sih. Masih pagi udah teriak teriak aja, gak ada kerjaan lain?”
Maya  : “eh, maap pak, maap. Ini, soalnya ada job mendadak pak, jadi saya ke sini pagi pagi.
                Tapi dari tadi gak ada yang bukain pintu, jadinya saya terpaksa teriak teriak deh.
                Maap banget ya, pak.”
Tetangga : “huh, ganggu aja.”
Maya  : “aduh, gara - gara mereka nih gw diomelin pagi pagi. Gw telpon aja deh.”

Suara telpon pun berbunyi dari dalam base camp.

Ronald : “duuhh, sapa sih ni? Halo?”
Maya   : “wooii, bangun.. bangun.. kita ada job dadakan nih, jam8 di senayan. Ayo.. buruan!”
Tomas  : “cancel dulu deh, may. Masih ngantuk nih, semalem kan tidurnya jam2.”
Maya   : “honornya tuh 50 juta tau. Ayo buruan, cuma se-jam aja, kok. Cepetan.. banguunn!”
Ronald : “oh, 50 juta. Hah? 50 juta? Se-jam aja? Beneran may? Eh, eh, bangun.. bangun..
                  Job dadakan nih, 50 juta.. yaudah may, nih kita siap siap dulu ya.”
Maya   : “hmm, 50 juta aja, langsung melek.”

            Setengah jam kemudian mereka pun keluar dari base camp dan segera menuju mobil.
Saat maya menyalakan mobil, tiba tiba suara aneh terdengar, ditambah dengan asap yang keluar dari mesin.
Maya  : “waduh, kenapa lagi nih mobil?”
Tomas : “kok, berasep gitu sih, may? Jangan jangan mo meledak lagi.”
Maya  : “vid, temenin gw yuk, liat mesinnya.”
David  : “yuk.”

            David membuka tutup mesin. Asap pun keluar dan menyebar.

Maya  : “uhuk.. uhuk.. asepnya kok banyak banget, vid? Kenapa nih?”
David  : “hmm, kaya’nya ada yang konslet nih, may.”
Maya  : “duh, trus giman nih? Mana lagi buru – buru. Kalo mo dibenerin, lama gak vid?”
David  : “mungkin bisa ampe satu jam. Lumayan parah rusaknya.”
Maya  : “hah, satu jam? Gimana ya?”

            Dari dalam mobil, Ronald berkata.

Ronald : “vid, mobilnya kenapa? jangan diem aja dong. Kapan jalannya nih?”
David  : “mesinnya ada yang konslet, harus dibenerin dulu.”

            Sony pun keluar untuk mengetahui kerusakan mobil.

Sony    : “eh, kita tuh udah telat tau, kenapa pake konslet segala, sih?! Emang ni mobil kapan
                 terakir di servis?”
maya   : “kalo gak salah sih, 3 bulan yang lalu, son. Ya, maklum aja, akhir – akhir ini kita kan
                 lagi banyak job, jadi gak sempet servis lagi.”
David  : “kalo gak bisa nunggu lama, terpaksa kita naik bis.”
Sony    : “naik bis?! Mo ditaro dimana muka kita?! Ini semua tuh emang salah lu vid, lu kan
                 yang paling tua disini, harusnya lu tuh bisa mastiin kalo semuanya itu fine – fine
                 aja. Kalo udah kaya’ gini, gimana? Semuanya jadi berantakan, dan itu semua karna
                 lu!” (lalu beranjak pergi kembali ke base camp. Ronald dan tomas pun kemudian
                 ikut keluar dari mobil).
Tomas : “eh, ada apa, sih? kok si sony masuk lagi ke base camp?”
David   : “ini semua emang salah gw, sory banget ya.”
Ronald : “yah, berarti gak jadi dong?! Ckckckck, huft..”
Maya   : “kenapa jadi kaya’ gini ya? Hmm, bentar deh, gw nelpon orang senayan dulu.”
                 (menjauh dari mobil)
Ronald : “nggak, ini gak bisa dibiarin vid, lu gak boleh nyerah cuma gara gara si sony. Kita
                  harus selesain semuanya baik – baik.”
Tomas : “eh, gimana kalo kita jenguk si sonny besok?, ya sekalian kita omongin masalah ini.”
Ronald : “boleh tuh, gw juga udah kangen sama si sonny, terakir kita jenguk dia itu kan
                  sebulan yang lalu. Gimana, vid?”
David   : “kalo itu jalan keluarnya, gw setuju.”
Ronald : “yaudah tom, sekarang mending lu ke dalem, lu bujuk si sony biar dia mau ikut
                  jenguk kakaknya lagi sama kita. Tapi lu jangan ngomong macem macem, ya.”
Tomas  : “iya.”

            Tomas pun kembali menuju base camp dan menghampiri sony.

Tomas  : “hei, son. Lu kenapa?”
Sony     : “pake nanya lagi lu, jelas jelas gw lagi sebel sama si david. Dia tuh emang bener –
                  bener mo cari gara - gara sama gw.”
Tomas  : “ah, masa? Cuma perasaan lu doang kali, son. Lagian, dia kan sohib abanglu. Di
                  Begin boys ini, si david tuh cukup berpengaruh, son.”
Sony     : “berpengaruh? Maksud lu?”
Tomas  : “ya si david kan umurnya sama tuanya sama abanglu, kalo abanglu gak ada, berarti
                  david penggantinya. Tapi gw kesini bukan mo ngomongin soal si david, rencanya
                  besok tuh kita mo jenguk abanglu ke rumah sakit bareng bareng, jadi lu harus ikut,
                  ok?!”
Sony     : “oh, tumben. Emang besok gak ada jadwal manggung?”
Tomas  : “ngg, gak ada kok, son. Jadi lu ikut ya!”
Sony     : “yaudah.”

            Keesokan harinya para personil tengah bersiap - siap untuk pergi ke rumah sakit. Lalu datanglah maya ke base camp.
Maya   : “eh, pada mo ke mana lu? Jam segini udah rapi aja.”
Sony    : “mo jenguk kakak gw may, emang lu gak ikut?”
Maya   : “jenguk? Nggak, hari ini gw mo ke rumah paman gw, mo bantu - bantu acara
                kawinan, mumpung gak ada job hari ini. Lagian juga gak ada yang bilang kalo hari
                ini pada mo ke rumah sakit.”
Ronald : “ya, takutnya hari ini lu ada acara sendiri, jadinya gak ngasih tau, deh.”
Maya   : “oh, yaudah. Gw cabut duluan, ya. Salam aja deh kalo gitu.”
Tomas : “sip, may.”

            Tak lama setelah may pergi, para personil Begin boys pun bergegas pergi ke rumah sakit. Sesampainya di sana, buru - buru mereka masuk ke dalam lift yang waktu itu sedang kosong. Usai keluar dari lift, mereka pun sampai di kamar sonny.

Sony    : “hay, kak.”
Sonny  : “hay. Wah, tumben nih, rame rame.”
Ronald : “hehe, iya son, kita kan udah lama gak jenguk lu.”
Sonny  : “oh, jadi kangen sama gw ceritanya?!”
David   : “ya, bisa dibilang gitu. Tapi ngomong ngomong, gimana keadaannya sekarang?
                 udah sembuh, kan?!”
Sonny  : “sekarang sih, udah baikkan. Cuma badan gw masih agak lemes, kadang aja gw
                  tidur hampir seharian.”
Tomas : “tapi yang jelas kita udah bisa ngobrol sama lu lagi, kan? Ngeliat lu kaya’ gini juga
                 udah lumayan, kok. Oia, nih kita bawain cake kesukaan lu sama buah – buahan.”
Sonny  : “wah, makasih banget ya. Lumayan, bisa jadi cemilan. Ya, lu tau sendiri kan,
                 makanan - makanan disini tuh gak ada yang enak.”
Ronald : “haha, nikmatin aja lagi, son. Selagi lu di rumah sakit.”
Sonny  : “ah, bisa aja, lu. Oia, gimana sama Begin Boys? Pasti makin banyak job, ya kan?!”
Sony    : “ya gitu deh, kak. Banyak, tapi gak seru.”
Sonny  : “gak seru? Apanya yang gak seru? honornya?!”
Sony    : “ya, ya gitu. Pokoknya, ngebosenin abis deh, kak. Yang ada, capeknya doang.”
Sonny  : “ah, masa? Perasaan kamu aja, kali. Mungkin, kamu kurang enjoy buat ngeband.
                 Yang lain kaya’nya biasa aja, tuh.”
Sony    : “ah, kakak emang gak ngerti perasaan aku. Kakak pikir dari ngelukis ke ngeband itu
                 gampang?! Walaupun sama - sama dunia seni, tapi dua duanya itu beda!”

            Sony pun tiba - tiba pergi meninggalkan kamar kakaknya dengan maksud menghindari pertanyaan. Melihat sony pergi, david pun segera mengikutinya untuk bicara empat mata dengannya.

David  : “son, tunggu, son.”
Sonny  : “apa?”
David  : “lu gak seharusnya ngasih tau apa yang lagi lu rasain ke kakaklu. Gw tau, gw salah.
                tapi lu gak perlu kaya’ gini, ini tuh cuma bakal bikin kakaklu khawatir.”
Sony    : “oh, jadi lu gak mau kalo kakak gw tau masalah ini?! Lu gak mau kakak gw tau kalo
                 lu itu penyebab  semua masalah di Begin Boys slama ini?! Heh, pengecut lu.”
David  : “lu salah, son. Gw bukan pengecut, & gw juga gak bermaksud nutup – nutupin
                masalah ini dari kakaklu. Gw cuma gak mau, kakaklu ikut - ikut pusing mikirin
                  semua ini. Inget son, dia itu belom bener - bener sembuh, gw gak mau kalo
                  penyakitnya tambah parah cuma gara – gara hal sepele kaya’ gini.”
Sony    : “sepele? Lu piker ini sepele?! Ok, kalo gitu gw bakal keluar dari Begin Boys sekarang
                 juga.”
David  : “gak bisa, lu gak bisa segampang itu bilang keluar. Begin Boys masih butuhin lu, kalo
                lu gak ada, Begin Boys juga gak bisa bertahan lagi. Dan kita semua bakal bubar.”
Sony    : “gw gak peduli apa yang bakal terjadi nanti. Yang pasti, keputusan gw udah bulat,
                 dan bahkan kakak gw pun gak bisa ngerubah itu semua.”
David  : “tapi son, son.. sony.. son gw mohon, son.”

            Sony tampak pergi meninggalkan david dengan langkah cepat. Ia bahkan tak kembali ke kamar kakaknya untuk pamit pulang. Sementara itu, Tuti yang sedari tadi mendengarkan pembicaraan sony dan david hanya terdiam tak percaya. Tuti pun segera menghampiri david untuk mengetahui apa yang sebenarnya terjadi pada band idolanya itu.

Tuti     : “mas david,”
David  : “eh, kamu siapa?”
Tuti     : “saya tuti, mas. B’Boys lopers yang kemarin salah ngasih kado ke mas sonny.”
David  : “trus, kamu? Kamu denger semuanya?”
Tuti     : “iya, mas. Sebenernya ndak sengaja. Tapi, ada apa sih, mas?”
David  : “yang jelas, itu gak terlalu parah.”
Tuti     : “emh, tentang mas sony yang keluar dari Begin Boys, itu ndak bener, kan?! Kalian
                ndak akan bubar, kan?! Iya, kan mas?!”
David  : “entah, tapi semoga aja itu nggak terjadi. Hmm, saya ada ide.”
Tuti     : “ide? Ide apa, mas?”
David  : “kalo kamu emang B’Boys lovers, kamu harus dateng besok ke suatu tempat, nanti
                saya kasih tau tempatnya.”

            Usai pamit pada sonny, mereka pun kembali ke base camp. Namun sesampainya di base camp, ternyata sony tidak ada disana. Lalu, hujan turun tiba - tiba.

Ronald : “kok sepi? Si sony ke mana ya?”
Tomas  : “tadi kata lu dia balik ke base camp, vid. Kok gak ada?”
David   : “ngg, gw juga gak tau. Ya, gw kira dia balik ke sini.”
Ronald : “emangnya, tadi tuh lu sama sony ngomongin apaan, sih? Lama banget, gw jadi
                  kasian sama si sonny.”
David   : “enggak, gak ngomongin apa - apa.”
Tomas  : “jujur aja kali, vid. Si sony ngomelin lu lagi?!”
David   : “yaudahlah, gak usah dipikirin. Yang harus dipikirin sekarang tuh dia dimana? mana
                  lagi ujan gini.”
Ronald : “alah, gak usah ngerubah topik pembicaraan, deh. Segala so’ khawatir gitu. Lagyan
                  ngapain juga lu khawatir sama dia, ntar juga balik sendiri.”

            Malam harinya hujan mereda. Namun sony belum juga kembali. Padahal malam sudah cukup larut. Tak sadar, david yang berniat untuk menunggu sony pulang, sudah tertidur pulas. Esok harinya, tampak sony yang tengah berpakaian. Melihat itu, david pun segera bangkit dari tidurnya.
David   : “eh, sony. Semalem pulang jam berapa? Sory ya, kemaren..”
Sony     : “gak usah so’ perhatian, deh lu. Sikap lu itu, gak bakal ngerubah keputusan gw.”
Ronald : “hah? Keputusan? Keputusan apaan, son?”
Sony     : “keputusan kalo gw bakal angkat kaki dari Begin Boys. Puas, lu?!”
Tomas  : “loh, gak bisa seenaknya gitu dong, son. Kalo lu keluar, gimana nasib Begin Boys?
                  Lu tega nyakitin perasaan abanglu?”
Sony     : “eh, denger ya, gw tuh udah capek sama semua ini dan gw gak bisa terus – terusan
                  kaya’ gini. Gw tuh udah cukup tersiksa, apa lu semua gak ngerti?! Ditambah lagi
                  sama sikap lu, vid. Slama ini, lu cuma ngasih tekanan batin buat gw, dan gw gak
                  bisa tahan.”
David   : “oke son, gw terima cacian lu. Tapi please, jangan keluar dari Begin Boys selama
                  kakaklu masih sakit. Jangan kecewain perasaannya, gw mohon.”
Ronald : “iya, son. Ini demi kita semua.”

            Sony pun terdiam. Kembali memikirkan kata - kata tiga orang itu. Ia sangat ingin berhenti dalam sandiwara ini, tapi keadaan kakaknyalah yang membuatnya bimbang. Namun sony tetap kukuh dengan keputusannya.

Sony     : “nggak, gw gak bakal berubah.” (sambil bergegas pergi)
Ronald : “trus, lu mo ke mana, son?”
Sony     : “ke rumah sakit. Hari ini juga gw bakal kasih tau kakak gw.”
Tomas :  “tapi, son.. son..”
David   : “lu gak boleh pergi, son. Sebelum lu ketemu sama seseorang. Mungkin dia emang
                 gak ada artinya buat lu, tapi lu sangat berarti buat dia. Dia yang bakal bikin lu
                 sadar dari keegoisanlu ini.”

            Langkahnya lalu terhenti. Beberapa menit kemudian, mereka semua pergi ke tempat yang telah disiapkan oleh david, yaitu sebuah cafe yang tak terlalu jauh dari lokasi base camp. Sesampainya di sana, tampak seorang wanita berbusana warna biru  yang tengah duduk sendirian. Mereka berempat pun langsung menghampiri wanita itu.

David   : “nah, ini dia orangnya. Lu udah kenal dia, kan?!”
Sony     : “loh, lu tuti, kan?! Ngapain lu disini? Eh, vid. Lu ngapain ngajak dia ke sini? Maksud
                  lu apa?”
Tuti       : “mas sony, saya mohon mas, jangan keluar dari Begin Boys. Walaupun, mas sony
                  ini bukan mas sonny yang sebenernya, tapi demi kakak mas sony, demi Begin
                  Boys, dan demi B’Boys lopers, jangan keluar dari Begin Boys ya, mas. Mas ndak
                  boleh mentingin diri sendiri, mas harus mikirin perasaan orang lain juga. Saya
                  mohon ya, mas!”
Sony     : “eh, vid. Lu sengaja ngatur semua ini? Sampe - sampe lu ngasih tau rahasia kita ke
                  orang  yang gak penting kaya’ dia, hah?! Jawab!”
David   : “dia bukan orang yang gak penting, son. Dia itu fans kita, orang yang selalu support
                  kita apapun keadaannya, orang yang selalu berharap supaya kita bisa ngasih yang
                  terbaik. Apa menurutlu dia ini gak ada artinya?! Apa lu emang orang yang sekeras
                  ini?”
Sony     : “iya, gw emang orang yang egois, gak pernah mau tau perasaan orang lain. Jadi lu
                  gak usah capek – capek mohon – mohon supaya gw berubah, karna itu percuma.”
            Percakapan mereka pun terhenti usai sony berbicara. Sony lalu pergi dengan amarahnya. Tiba - tiba tuti bangun dari tempat duduknya dan bergegas pergi mengikuti sony hingga keluar cafĂ©. Namun saat sony menyebrang jalan, tuti mengikutinya dengan berlari kecil dan tiba - tiba, sebuah mobil menabrak tuti. Ia pun langsung tergeletak tak berdaya dengan darah yang mengalir dari kepalanya. Melihat itu, sony pun terkejut dan langsung membawa tuti ke rumah sakit bersama ketiga temannya.
            Beruntung luka yang dialami tuti tidak terlalu parah. Dokter menyatakan bahwa tuti bisa pulang setelah lukanya mengering. Lalu, tuti pun akhirnya siuman.

Sony    : “tuti, lu udah sadar?”
Tuti      : “lho, mas sony, saya.. saya dimana ini, mas?”
David   : “kamu ada di rumah sakit, tadi kamu ketabrak mobil. Tapi gak parah kok, jadi kamu
                  gak usah takut, ya!”
Sony    : “iya, tuti. Dan, gw minta maaf, ya. Gara – gara gw lu harus terluka kaya’ gini. Gw
                 janji, gw bakal turutin permintaanlu, gw gak bakal keluar dari Begin Boys. Tapi
                 please ya, maafin gw!”

            Tuti pun mengangguk pelan sambil tersenyum pada sony. Dan akhirnya, tuti lah yang bisa merubah keputusan sony untuk tidak keluar dari Begin Boys. Semenjak hari itu, hubungan tuti dan para personil Begin Boys pun membaik, bahkan semakin akrab. Tuti pun mendapat predikat B’Boys lovers terbaik oleh para personil Begin Boys.




SELESAI